Aku dan Sejarah

Sejarah..siapa sejatinya dirimu?? Sejarah diperebutkan dan kadang diperkosa. Manusia datang, melintas dan berlalu begitu saja dianjungan masa. Berlalu dan kemudian sirna di telan masa,,di telan sejarah. Idealismenya merubah cara pandang manusia tentang dirinya. Seseorang meng-iyakan namun sebagian yang lain meng-acuhkan. Bertanya dan berusaha kujawab..”manusia”….apakah memang hanya produk sejarah???atau sejarah adalah produk manusia??? Seperti kata Buya Syafi’i Ma’arif bahwa sejarah adalah milik mereka yang membuat, bukan milik kita. Kita hanyalah penghafal lembaran-lembaran sejarah,,kitab-kitab tebal yang sejatinya bukan milik kita.. Setiap hari setiap masa kita diberi wangi-wangian sejarah,,ibarat bunga tanpa nama,,ibarat penciuman yang hanya tau harumnya saja.. Manusia masuk dalam lingkaran sejarah,,tapi manusia tidak faham apa itu sejarah dan di mana posisi dirinya.. Perjalanan dunianya melalaikanya akan pentingnya dirinya untuk sejarah…dia lupa menyapa sejarah…manunsia lupa bahwa sejarah membutuhkan dirinya untuk sejarah… Karena terlalu lama terlena dengan dunianya, banyak manusia yang tertinggal sejarah,,sejarah datang,,menyapa,,,berlalu,,dan kemudan lenyap tanpa disadari itu adalah sejarah.. Tetapi ada juga manusia yang hidupnya merindukan sejarah,,namun dia tidak menantinya,,karena dia tau sejarah. Perjalanan hidupnya bukan sekedar sugesti bahwa sejarah membutuhkanya,,pada kenyataan akir manusia inilah yang akirnya menjadi kekasih sejarah,,wangi dirinya adalah wangi sejarah,,senyumnya adalah senyum sejarah,,dan tangisnya adalah tangis sejarah,, Mu’allimin adalah sejarah,,sejarah untuk mereka yang pernah mengukir namanya dengan tinta emas di sana. Kadang aku ingin masuk dalam wangi semerbak sejarah ini,,tapi aku lupa bahwa ketika dia menyapaku, aku masih tertawa menanti dan menghitung detik,,sampai akirnya pagi berganti datang dan dia berlalu. aku terdampar tanpa sejarah,, Senyum tanpa makna adalah senyum tanpa sejarah.. Perjalanan tanpa cerita adalah perjalanan tanpa sejarah.. Dan ketika aku sadar bahwa aku telah kehilangan sejarah,,semuanya telah berubah. Lintasan yang sekarang ku lalui ini adalah sejarah dan akan menjadi sejarah,, Sesuatu yang selalu aku impikan dan cintaku padanya tak akan pernah pudar adalah cintaku pada sejarah. Aku tidak mempunyai semuanya..bahkan sejarah yang pernah membesarkanku!! Dan kini,,ketika aku sadar bahwa sejarah itu telah meninggalkanku,,aku merasa harus bangkit keluar dari “sejarah” ini.. Wangi sejarah bukan berasal dari tertawa-tertawa,,hura-hura,,foya-foya,,tapi dia adalah dari keringat kesungguhan. Dari keringat yang kadang harus ada isak tangis,,bahkan sampai nyawa dijadikan tarohan untuk sekedar sejarah.. Sejarah…bukan suatu yang luar biasa…tapi dia diperebutkan manusia.. iyaa..aku setuju bahwa dia bkan sesuatu yang luar biasa..TETAPI…sangat LUAR BIASA… Perlu waktu untuk berinteraksi dengan sejarah,,perlu kekuatan untuk bisa memandang dan berkenalan dengan sejarah.. Dan kini ketika aku menulis surat cinta ini untuk dirinya,,sejatinya dia sedang menantiku di setiap detak jantung dan detik jam.. Sejarah adalah aku yang bernafas dan melamun juga menangis,,kadang tertawa. Membaca dan menulislah untuk sejarah…dan jadilah sejarah!! Dan akan aku ambil bagianku karena aku punya hak pada sejarah… Aku tidak mau menjadi orang yang selamanya hanya menghafal sejarah…!!!

Musim panas 2007 yang menjadi bagian dari sejarah..

Read more >>

Al Azhar University, Egypt

Perjalanan panjang Al-azhar yang kini jelamg usia 1033 tahun perhitungan masehi atau 1065 tahun penanggalan hijriah memang menarik di simak. Sejak dibangun pertama kali pada 29 jumadil ula 359 H. (970 M.) oleh panglima Jauhar Ash-shiqili lalu dibuka resmi dan shalat jum’at bersama pada 7 Ramadhan 361 H..


Lembaga besar yang mulanya sebuah masjid ini bagai tak pernah lelah membidani kelahiran para ulama dan cendekiawan muslim. "Masjid sekaligus institusi pendidikan tertua", itulah penghargaan sejarah buatnya. Kelahiran Al-azhar tak bisa dipisahkan dari peran dinasti Fathimi yang kala itu dipimpin oleh khalifah Mu’iz li Dinillah Ma’ad bin Al-mansur (319-365 H.\ 931-975 M.), khalifah keempat dari dinasti Fathimiyah.


Jauh sebelumnya ketika islam mulai menyebar ke Mesir (641 M.) di masa khalifah Umar bin Khatab, pendidikan islam formal sebenarnya telah berjalan sejak berdirinya mesjid pertama di Afrika. Sudah menjadi suatu kaedah tak tertulis bahwa peradaban islam disuatu daerah selau di kaitkan dengan peran Jami’ (masjid negara) di kawasan tersebut. Hal ini mungkin diilhami dari kerja nyata Rasulullah Saw., ketika hijrah ke Madinah, tugas pertama yang yang beliau lakukan adalah membamgun masjid Nabawi. Ini menandakan peran masjid yang tidak hanya terbatas dengan kegiatan ritual semata, tapi lebih dari itu, mesjid adalah sentral pemerintahan islam, sarana pendidikan, mahkamah, tempat mengeluarkan fatwa, dan sebagainya. Hal inilah yang kemudian dilakukan oleh ‘Amru bin ‘Ash ketika menguasai wilayah Mesir.


Atas perintah khalifah Umar, panglima Amru bin ‘Ash mendirikan masjid pertama di Afrika yang kemudian dinamakan masjid ‘Amru bin ‘Ash di kota Fushtat, sekaligus menjadi pusat pemerintahan islam Mesir pada waktu itu. Selanjutnya di masa dinasti Abbasiyah, ibu kota pemerintahan ini berpindah lagi ke kota yang di sebut Qatha’i dan ditandai dengan pembangunan sebuah masjid bernama Ahmad bin Thoulun.


Masa demi masa berlalu, pemerintahanpun silih berganti. Tiba era daulah Fathimiyah (385 H.\ 969 M.) ibu kota mesir berpindah ke daerah baru atas perintah khalifah Mu’iz li Dinillah yang menugasi panglimanya, jauhar Ash Shiqili, untuk membangun pusat pemerintahan. Setelah melalui tahap pembangunan, daerah ini dinamai kota al-Qahirah. Sebagaimana sejarah islam masa lalu, setiap berganti daulah selalu di tandai dengan pembangunan masjid di pusat ibu kota. Sehingga kurang setahun kemudian, beriringan dengan pembangunan kota al -Qahirah didirikan pula sebuah masjid bernama jami’ah Al-Qahirah (meniru nama ibu kota ). Seluruhnya masih dalam penanganan panglima Jauhar Ash-Shiqili.


Pada masa khalifah Al ‘Aziz Billah, sekeliling jami’ Al-Qahirah dibangun beberapa istana yang disebut al-Qushur az-Zahirah. Istana-istana ini sebagian besar berada di sebelah timur (kini sebelah barat Husein), sedangkan beberapa sisanya yang kecil di sebelah barat (dekat masjid al -Azhar sekarang), kedua istana dipisahkan oleh sebuah taman nan indah. Keseluruhan daerah ini dikenal sengan sebutan "Madinatul Fathimiyin al- Mulukiyah". Kondisi sekitar yang begitu indah dan bercahaya ini mendorong orang menyebut jami’al-Qahirah dengan sebutan baru; jami’ Al-Azhar (berasal dari kata Zahra’ artinya: yang bersinar, bercahaya, berkilauan).


Para khalifah jauh -jauh hari menyadari bahwa kelanjutan Al-Azhar tidak lepas dari segi pendanaannya. Oleh karena itu setiap khalifah memberikan harta wakaf baik dari kantong pribadi maupun kas negara. Penggagas pertama wakaf bagi Al-Azhar dipelopori oleh khalifah Al-Hakim bin Amrillah, lalu diikuti oleh para khalifah berikutnya serta orang-orang kaya setempat dan seluruh dunia islam. Sampai saat ini, harta wakaf tersebut kabarnya pernah mencapai sepertiga dari kekayaan mesir. Dari harta wakaf inilah roda perjalanan Al-Azhar bisa terus berputar, termasuk memberikan beasiswa, asrama dan pengiriman utusan Al-Azhar ke berbagai penjuru dunia. Dari masjid ‘Amru bin ‘Ash dan Ahmad bin Thoulun, perlahan poros pendidikan berpindah ke Al-Azhar.


Fase peralihan sudah menjadi semacam perjanjian tak tertulis, pada setiap khalifah daulah Fatimiyah selalu diadakan restorasi bangunan jami’ Al-Azhar. Hingga ketika gempa hebat sempat merusak Al-Azhar pada tahun 1303 M., Sultan An-Nashir yang memerintah saat itu segera merehab kembali bangunan masjid yang rusak.


Ciri spesifik pemugaran bangunan mulai nampak pada masa Qansauh Al-Ghauri (1509 M.)yang merestorasi satu menara Al-Azhar nan indah dengan dua puncak (Manaratul Azhar Dzatu Ar-Ra’sain). Penyempurnaan jami’ Al-Azhar kembali dilanjutkan pada periode daulah Utsmani, dengan kegiatan renofasi yang tak jauh berbeda seperti sebelumnya. Puncaknya dicapai pada masa Amir Abdurrahman Katakhda (wafat 1776 M.) dengan menambah dua buah menara, mengganti mihrab dan minbar baru, membuka lokal belajar bagi yatim piatu, membangun ruang sebagai pemondokan mahasiswa dan pelajar asing, membuat pendopo ruang tamu, terasa tak beratap dalam masjid, dan tangki air tempat berwudhu’. Singkat kata, hampir seluruh bangunan tua yang masih tersisa di masjid al-azhar kini adalah hasil karya Amir Abdurrahman.


Seiring gelombang pasang surut sejarah, berbagai bentuk pemerintahan silih berganti memainkan perannya di lembaga tertua ini. Selain sebagai masjid, proses penyebaran paham syi’ah turut mewarnai aktivitas awal yang dilakukan dinasti Fathimiah. Khususnya dipenghujung masa khalifah Al-Mu’iz li Dinillah ketika Qadhi Qudhah Abul Hasan Ali bin Nu’man Al-Qairuwani mengajarkan fiqh madzhab syi’ah dari kitab mukhtasar yang merupakan pelajaran agama pertama di masjid Al-Azhar pada bulan Shafar 365 Hijriah (Oktober 975 M.). Sesudah itu proses belajar terus berlanjut dengan penekanan utama pada ilmu-ilmu agama dan bahasa, walaupun tanpa mengurangi perhatian terhadap ilmu manthiq, filsafat, kedokteran, dan ilmu falak sebagai tambahan yang diikutsertakan.


Namun semenjak Shalahuddin Al-Ayyubi memegang pemerintahan Mesir (tahun 567 H/1171 M.), Al-Azhar sempat diistirahatkan sementara waktu sambil dibentuk lembaga pendidikan alternatif guna mengikis pengaruh syi’ah. Di sinilah mulai dimasukan perubahan orientasi besar-besaran dari mazdhab syi’ah ke mazdhab sunni yang berlaku hingga sekarang.


Fase reformasi administrasi pertama Al-Azhar dimulai pada masa pemerintahan sultan Ad-Dhahir Barquq (784 H/1382 M) di mana ia mengangkat sultan Bahadir At-Thawasyi sebagai direktur pertama, ini terjadi dalam masa kekuasaan Mamalik si Mesir. Upaya ini merupakan usaha awal untuk menjadikan Al-Azhar sebagai yayasan keagamaan yang mengikuti pemerintah. Sistim ini terus berjalan hingga pemerintahan Utsmani menguasai Mesir di penghujung abad 11 H. Ditandai dengan pengangkataan "Syaikh Umumy" yang digelar dengan Syaikh Al-Azhar sebagai figur yang mengatur berbagai keperluan pendidikan, pengajaran, keuangan, fatwa, hukum, termasuk tempat mengadukan segala persoalan.


Pada fase ini terpilih syaikh Muhammad Al-Khurasyi (1010-1101 H) sebagai syaikh Al-Azhar pertama. Secara keseluruhan ada 41 syaikh yang telah memimpin Al-azhar selama 44 periode, hingga kini dipegang oleh mantan Ahmad Thayeb.


Masa keemasan Al-Azhar terjadi pada abad 9 H (15 M). Banyak ilmuan dan ulama islam bermunculan di Al-Azhar saat itu, seperti Ibnu Khaldun, Al-Farisi, As-Suyuti, Al-’Aini, Al-Khawi, Abdul Latif Al-Bagdadi, Ibnu Khalikqan, Al-Maqrizi dan lainnya yang telah mewariskan banyak ensiklopedi Arab. Iklim kemunduran kembali hadir ketika dinasti Utsmani berkuasa di Mesir (1517-1798 M). Al-Azhar mulai kurang berfungsi disertai kepulangan para ulama dan mahasiswa yang berangsur-angsur meninggalkan Qahirah. Meski begitu tambahan berbagai bangunan tetap diupayakan atas prakarsa amir-amir Utsmani dan kaum muslimin sedunia.


Kepemimpinan Muhammad Ali Pasha di Mesir pada tahap selanjutnya telah membentuk sistem pendidikan yang paralel tapi terpisah, yaitu pendidikan tradisional dan pendidikan modern sekuler. Ia juga berusaha menciutkan peranan Al-Azhar sebagai lembaga yang berpengaruh sepanjang sejarah, antara lain dengan menguasai badan waqaf Al-Azhar yang merupakan urat nadinya. Seterusnya, pada masa pemerintahan Khedive Ismail Pasha (1863- 1874) mulai diusahakan reorganisasi pendidikan, dan dari sinilah pendidikan tradisional mulai bersaing dengan pendidikan modern sekuler.


Serangan terhadap pendidikan tradisional sering tampak dari usaha yang menginginkan perbaikan Al-Azhar sebagai pusat pendidikan islam terpenting. Sejak awal abad 19, sistim pendidikan barat mulai diterapkan di sekolah-sekolah Mesir. Sementara Al-Azhar masih saja menggunakan sistim tradisional. Dari sini mulai muncul suara pembaharuan, di antara pembaharuan yang menonjol adalah dicantumkannya sistem ujian untuk mendapatkan ijazah Al-’Alamiyah (kesarjanaan) Al-Azhar pada Februari 1872. Juga pada tahun 1896, untuk pertama kali dibentuk Idarah Al-Azhar (dewan administrasi). Usaha pertama dari dewan ini adalah mengeluarkan peraturan yang membagi masa belajar di Al-Azhar menjadi dua periode: pendidikan dasar 8 tahun serta pendidikan menengah dan tinggi 12 tahun, kurikulum Al-Azhar ikut diklasifikasikan dalam dua kelas: Al-’Ulum al-Manqulah (bidang studi agama) dan al-’Ulum al-Ma’qulah (studi umum).


Menyebut pembaharuan di Al-Azhar, kita perlu mengingat Muhammad Abduh (1849-1905). Ia mengusulkan perbaikan sistem pendidikan Al-Azhar dengan memasukan ilmu-ilmu modern kedalam kurikulumnya. Gagasan terssebut mulanya kurang disepakati oleh syaikh Muhammad Al-Anbabi. Baru ketika syaikh An-Nawawi memimpin Al-Azhar, ide Muhammad Abduh bisa berpengaruh, berangsur-angsur mulai diadakan pengaturan masa libur dan masa belajar.


Uraian pelajaran yang bertele-tele yang dikenal syarah al-Hawasyi disederhanakan. Sementara itu kurikulum modern seperti fisika, ilmu pasti, filsafat, sosiologi, dan sejarah telah menerobos Al-Azhar, berbarengan dengan ini pula di renovasi ruaq Al-Azhar sebagai pemondokan bagi guru dan mahasiswa.


Pada abad XXI ini, Al-Azhar mulai memandang perlunya mempelajari sistem penelitian yang dilakukan universitas di barat, dan mengirim alumni terbaiknya untuk belajar ke Eropa dan Amerika. Tujuan pengiriman itu adalah untuk mengikuti perkembangan ilmiyah di tingkat international sekaligus upaya perbandingan dan pengukuhan pemahaman islam yang benar. Cukup banyak duta Al-Azhar yang berhasil yang berhasil meraih gelar Ph.D dari universitas luar tersebut, di antaranya adalah syaikh Dr. Abdul Halim Mahmud, syaikh Dr. Muhammad Al-Bahy, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sebelumnya, pada tahun 1930, keluar undang-undang nomor 49 yang mengatur Al-Azhar mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi dan membagi universitas Al-Azhar menjadi 3 fakultas, yaitu: Syari’ah, Ushuluddin, dan Bahasa Arab.


Fakultas induk Syari’ah wal Qanun di Kairo merupakan bangunan pertama yang berdiri pada tahun 1930, yang semula bernama fakultas Syari’ah. Lalu pada tahun 1961 dirubah menjadi nama seperti sekarang. Fakultas induk Ushuluddin dan Bahasa Arab di Kairo juga didirikan pada tahun 1930, penjurusannya diatur kembali pada tahun 1961. Fakultas Da’wah islamiyah didirikan dengan keputusan presiden (keppres) nomor 380 tahun 1978 yang di keluarkan pada 16 Ramadhan 1398 H, bertepatan dengan 20 agustus 1978. Fakultas Dirasat islamiyah wal Arabiyah memulai kuliahnya tahun 1965 sebagai salah satu jurusan dari faklultas Syari’ah pada tahun 1972 keluar keppres nomor 7 yang menjadikan fakultas ini sebagai lembaga tersendiri dengan nama (Ma’had Dirasat Al-islamiyah wal Arabiyah / Institute of Islamic and Arabic Studies ). Namun pada 1976 keluar keppres No. 299 yang kembali menjadikan institut ini sebagai fakultas tersendiri, dengan jurusan: Ushuluddin, Syari’ah Islamiyah, Bahasa arab dan Sastra arab.


Angin pembaharuan kembali berhembus di Al-Azhar pada 5 Mei 1961 di masa kepemimpinan syaikh Mahmud Syalthut. Peran Syaikh Al-Azhar diciutkan menjadi jembatan simbolis sehingga kurang mempunyai pengaruh langsung terhadap lembaga pendidikan yang berada di bawah pimpinanya. Undang-undang revolusi Mesir no. 103 tahun 1961 memberikan kemungkinan besar perubahan srtukturil pendidikan di Al-Azhar, sehingga di antaranya membolehkan lulusan SD atau SMP Al-Azhar untuk melanjutkan studinya ke SMP atau SMA milik departemaen pendidikan, atau sebaliknya.


Dalam ruang lingkup pendidikan tinggi, disamping fakultas-fakultas keislaman, ditambahkan lagi fakultas baru seperti: Tarbiyah, Kedokteran, Perdagangan, Ekonomi, Sains, Pertanian, Teknik, Farmasi, dan sebagainya. Juga dibangun khusus fakultas untuk mahasiswi (kuliyatul banat) dengan berbagai jurusan.


Al-Azhar mempunyai 3 rumah sakit universitas: Husain Hospital, Zahra’ Hospital, dan Bab El-Syari’ah Hospital. Sementara itu, Nasser Islamic Mission City untuk orang asing dibuka pada bulan september 1959. Universitas Al-Azhar hanyalah sala satu lembaga resmi yang dimiliki Al-Azhar, masih ada lembaga lain yang sempat terbentuk, seperti: lembaga pendidikan dasar dan menengah (Al-Ma’ahid Al-Azhariyah), Biro Kebudayaan dan Misi Islam (Idarah Ast-Tsaqafah wal Bu’uts al-Islamiyah), Majlis Tinggi Al-Azhar (Majlis Al-a’la lil Azhar ), Lembaga Riset Islam (Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyah), Hai’ah Ighatsah Al-Islamiyah.


Sejak mula berdirinya, studi di Al-Azhar selalu terbuka untuk semua pelajar dari seluruh dunia, Hingga kini Universitas Al-azhar memiliki lebih dari 50 fakultas yang tersebar di seluruh pelosok Mesir

(Dari beberapa sumber, 2007)
Read more >>

Pituturing Urip


Obat hati ada lima perkara..
yang pertama membaca al-Qur’an dan maknanya..
yang ke dua shalat malam dirikanlah..
yang ke tiga berkumpullah dengan orang shaleh..
yang ke empat perbanyaklah berpuasa..
yang ke lima zikir malam perpanjanglah..

Terlalu terlena dan pongah dengan dunia, sehingga ketika membaca kelima hal di atas tidak ada reaksi di hati,mungkinkah hati kita telah mati…mungkinkah cermin yang paling berharga dan jujur itu telah pecah dan hancur???
Padahal sesungguhnya kelima hal di atas sebagai obat kehidupan.
Ketika merasakan beban dunia yang begitu berat, himpitan masalah kian membebani pikiran, ketika tangis dan air mata sdah tak tertahankan kelima hal di atas adalah solusi..
Di kegelapan malam suara gemericik air dan hembusan angin berbarengaan dengan langkah sunyi menjadi sangat bermakna untuk mengobati kerinduan hati pada sang pencipta alam..
Alangkah ruginya mereka yang mendapatkan kesempatan bertemu dngan Rabb nya di kesunyian tetapi malah menarik selimut mengelap iler.

falsafah kehidupan tentang kematian..bahwa setiap nyawa tidak ada yang kekal..
Bahwa bang Opick pernah bilang:>setiap mata hati tangan kaki akan menjadi saksi…
dan benar kiranya bahwa setiap dosa diri akan di hakimi..
pada waktu itu terlambatlah sudah penyesalan dan taubat..
tangispun sdah tidak di butuhkan..
dan ketika timbangan amal di bagikan pada saat itu manusia mendapati jalan hidup yang wajib di tempuh kemudian..
bahwa semua mata hati semuanya adalah saksi,,tak satupun selain kuasa Illahi..

>tiada dusta diri yang tak terhakimi..
>luka sepi air mata tak berarti ..

Wahai manusia yang selalu membangga-banggakan dunia, sesungguhnya dengan kehidupanmu sekarang ini masa depanmu kau bangun an kau warnai ,,
kamu bisa berdusta kepada seluruh manusia..tetapi selamanya kamu tdak akan pernah bisa berdusta pada hati nuranimu sendiri…
bukankah manusia tidak bisa berbohong pada hati nuraninya??
karena ketetapan illahi pada saat itu adalah benar adanya..

(June 23rd, 2007 by almanafi)

Read more >>

Israel..shit..!!!

Ang Swee Chai pagi hari segera menuju Rumah Sakit Gaza yang
terletak tidak jauh dari kamp pengungsian Sabra-Shatila. Sepanjang hari
Beirut Barat dihujani bom yang dimuntahkan dari tank dan pesawat pembom.

“Pukul empat kurang lima belas menit di sore hari, zona pengeboman
telah mendekati jarak tiga perempat kilometer dari rumah sakit,
orang-orang yang berusaha meninggalkan kamp telah kembali dan
mengatakan jika semua jalan yang mengarah ke kamp telah diblokir oleh
tank-tank Israel, ” tulis Dokter Ang.

Tidak sampai sejam kemudian, tentara Israel menyerbu Rumah Sakit
Akka dan menembak mati para perawat, dokter, dan seluruh pasien.
Seluruh perempuan di rumah sakit tersebut diketahui diperkosa dahulu
sebelum dibunuh. Orang-orang yang berada di sekitar rumah sakit
berlarian ke sana kemari mencari tempat yang dianggapnya aman. Mereka
berteriak-teriak bahwa tentara Israel mengejar mereka dengan tank.

Ketika malam tiba, suara dentuman meriam dan ledakan besar tidak
lagi terdengar, hanya saja rentetan senapan mesin masih berlangsung
sepanjang malam. Langit di atas kamp Sabra-Shatila terang benderang
oleh peluru-peluru suar yang ditembakkan oleh tank dan helikopter.

Menjelang pagi, raungan pesawat tempur kembali terdengar disusul
suara ledakan keras di sana-sini. Rentetan tembakan tidak pernah
berhenti.

“Ini membuatku bertanya-tanya apakah di kamp itu masih ada
pejuang-pejuang Palestina?” tanya Dokter Ang keheranan karena ia tahu
betul bahwa tidak ada seorang pejuang Palestina pun yang masih ada di
kamp.

Ketika hari mulai siang, Dokter Ang kedatangan banyak sekali
perempuan-perempuan Palestina yang terluka tembak. Dari mereka Doker
Ang mengetahui jika tentara Israel mengawal anggota-anggota milisi
Kristen Phalangis untuk membantai orang-orang Palestina di kamp
Sabra-Shatila.

Dalam bukunya, Dokter Ang yang menjadi salah satu saksi mata tragedi
pembantaian kamp Sabra-Shatila menulis, “Tentara-tentara Israel dan
sekutunya itu merangsek ke rumah-rumah dan gang-gang kecil sambil
menembakkan senjata mereka dengan royal. Granat dan dinamit mereka
lemparkan ke jendela-jendela rumah yang penuh berisi orang. Para
perempuan banyak yang diperkosa sebelum dibunuh. Para bayi Palestina
diremukkan tulang-tulang dan kepalanya sebelum dibunuh. Banyak
anak-anak kecil dilempar ke dalam api yang menyala-nyala, yang lain
tangan dan kakinya dipatahkan oleh popor senjata. Untuk pertama
kalinya, aku menangis di sini. ”

Sejarah mencatat, pembantaian Sabra Shatila merupakan genosida
paling berdarah. Hanya dalam waktu tiga hari, tidak kurang dari 3. 297
orang Palestina—kebanyakan para perempuan dan anak kecil, bahkan
bayi-bayi—menemui ajal dengan cara yang amat mengerikan. Anehnya, PBB
dan dunia internasional tidak mengecam tragedi besar ini. Media Barat
pun banyak yang berupaya menutup-nutupi fakta yang terjadi.

Doktrin Rasisme Talmud

Yang
jadi pertanyaan: Mengapa orang-orang Israel itu mampu melakukan
kesadisan dan kebiadaban yang amat mengerikan terhadap orang Palestina
yang sama sekali tidak berdaya apa-apa.

Jawabannya diberikan sejarawan Illan Pappe, seorang Yahudi yang menyandang julukan “Orang Israel yang paling dibenci di Israel”.

Pappe adalah salah satu sejarawan Yahudi yang memilih memihak pada
hati nurani dan tanpa takut membongkar mitos-mitos Zionisme. Saat
ditanya, kenapa orang Israel bisa melakukan berbagai kekejaman terhadap
orang Palestina, Pappe menjawab, “Ini buah dari sebuah proses panjang
pengajaran paham, indoktronasi, yang dimulai sejak usia taman
kanak-kanak, semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. Anda
tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan
sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi
rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir
tidak pernah ada, dan penuh kebencian: Orang itu memang penuh
kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir
primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah
dirampas tanahnya. ” (Baudoin Loos, “An Interview of Illan Pappe, ” 29 Nov 1999,http://msanews. Mynet.net/Scholars/Loos/pappe. Html).

Indoktrinasi terhadap anak-anak Israel berlanjut hingga ia besar.
Ayat-ayat Talmud dijadikan satu-satunya “pedoman moral” bagi mereka.
Yang paling utama adalah indoktrinasi bahwa hanya bangsa Yahudi yang
manusia, sedangkan orang-orang yang lain adalah hewan.

Sejak Usia Dini

Penanaman
doktrin rasisme yang terdapat dalam Talmud dilakukan para orangtua kaum
Zionis kepada anak-anak mereka sejak dini. Survei yang diadakan oleh
Ary Syerabi, mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84
anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat dia bergabung dengan London Institute for Economic Studies, sungguh mengguncang nalar kita.

Ketika itu Ary ingin mengetahui perasaan apa yang ada di dalam benak
anak-anak Israel terhadap anak-anak Palestina sebaya mereka yang
sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu Ary memberikan sehelai kertas
dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata, “Tulislah surat buat
anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan pada mereka. ”

Hasilnya sungguh mencengangkan. Anak-anak Israel yang menyangka
suratnya benar-benar dikirim kepada anak-anak Palestina menulis surat
mereka dengan sebenar-benarnya, keluar dari hati terdalam. Apa saja
yang mereka tulis?

Salah satu surat ditulis oleh seorang anak perempuan Israel berusia
8 tahun. Ia mengaku menulis surat kepada anak perempuan Palestina
seusianya. Isi suratnya antara lain:

“Sharon akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung… dan
membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami,
wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) dari mana
kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya
mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan
dilakukan Sharon pada kalian…ha…ha…”

Bocah Israel itu menggambar sosok Sharon dengan kedua tangannya
menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.(!)

Ayat-Ayat Talmud

Di bawah ini adalah segelintir ayat-ayat Talmud yang dijadikan
doktrin perang tentara Israel. Dalam peperangan, seorang tentara Israel
wajib mendaras Talmud dalam kesempatan yang khusus. Terlebih di hari
Sabbath (Sabtu).

- “Orang Yahudi diperbolehkan berdusta menipu Ghoyim (non-Yahudi)” (Baba Kamma 113a)
- “Semua anak keturunan Ghoyim sama dengan binatang, ” (Yebamoth 98a)
- “Seorang Ghoyim yang berbaik pada Yahudi pun harus dibunuh, ” (Soferim 15, Kaidah 10)
- “Barangsiapa yang memukul dan menyakiti orang Israel, maka ia berarti telah menghinakan Tuhan, ” (Chullin, 19b)
- “Orang Yahudi adalah orang-orang yang shalih dan baik di mana pun
mereka berada. Sekali pun mereka juga melakuan dosa, namun dosa itu
tidak mengotori ketinggian kedudukan mereka, ” (Sanhedrin, 58b)
- “Hanya orang Yahudi satu-satunya manusia yang harus dihormati oleh
siapa pun dan oleh apa pun di muka bumi ini. Segalanya harus tunduk dan
menjadi pelayan setia, terutama binatang-binatang yang berwujud
manusia, yakni Ghoyim, ” (Chagigah 15b)
- “Haram hukumnya berbuat baik kepada Ghoyim (Non-Yahudi), ” (Zhohar 25b)
(TamatRizki Ridyasmara Era Muslim.com)

Read more >>