Peringatan Benyamin Franklin terhadap bahaya kaum Yahudi.

Benyamin Franklin bekas Presiden Amerika dalam suatu pidatonya di
hadapan Konggres Amerika, mengingatkan para pendiri negara AS sebagai
berikut ;
image“Dulu,
orang-orang yahudi masuk ke negeri ini sebagai imigran dekil. Kemudian
mereka menguasai potensi-potensi alam kita. Sekarang, mereka begitu
sombong kepada kita dengan memonopoli kekayaan alam kita. Mereka adalah
iblis-iblis jahannam dan kelelawar penghisap darah rakyat Amerika.
Tuan-tuan, usir gembel laknat itu dari negeri ini sebelum terlambat,
demi melindungi kepentingan rakyat kita dan generasi medatang
.

Kalau tidak Tuan-tuan akan melihat dalam satu abad mendatang mereka
akan menjadi tantangan yang lebih besar daripada apa yang sekarang ini
tuan pikirkan. Tiba-tiba, tuan akan menyaksikan mereka menguasai negeri
dan bangsa ini. Mereka akan menghancurkan segala sesuatu yang telah
kita bangun dengan darah kita. Percayalah, mereka tidak akan memiliki
belas-kasihan kepada anak cucu kita nanti. Bahkan, tidak mustahil,
mereka akan memperbudak kita demi mewujudkan apa yang mereka
cita-citakan. Mereka akan berada dalam kantor-kantor sambil
berfoya-foya untuk mentertawakan kebebalan, kebodohan dan kedunguan
kita. Tuan-tuan yakinlah, Jika tuan-tuan tidak segera mengambil
tindakan, niscaya ketika generasi-generasi mendatang tengah
terinjak-injak sepatu mengkilat Yahudi, mereka akan melaknat
kebijaksanaan kita sekarang ini.
”


(October 19th, 2007 by almanafi)

Read more >>

Untuk Qamar

Woow…siip..

Islam dengan semua ajaranya adalah kebenaran mutlak, bukan sekedar kebenaran temporer. Sebelum meneruskan membaca tulisan ini pahami dlu kalimat diatas..!
klo sudah dipahami betul2 kemudian simpulkan bagaimana model berfikir saya!

Tlisan ini bukan bantahan buat mas Qomar, cma sekedar meluruskan saja persepsi mas Qomar ke saya. Karena sbenarnya saya tidak jauh berbeda seperti pemahaman sahabat kita ini,,,

Sdikit dsini saya ingin memberikan gambaran bagaimana hubungan antara akal, fikiran dan nash.
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna, tentu ini kita sudah tau. Tapi apakan kesempurnaan manusia itu sekedar dia mempunyai akal saja???TIDAK!!!…Manusia dikatakan sempurna karena ke 3 hal diatas, berakal dan berfikir. Trus dimana letak nash syar’i???

Sya akan menjelaskanya dg ilustrasi brikut.

Allah telah memberi otoritas penuh kepada makhluk yang bernama manusia untuk memberdayakan kemampuanya dengan berbagai anugerah yg dikaruniakan untuk kemaslahatan.
Kenapa Allah memberi otoritas penuh kpd manusia???
jawabnya karena Allah telah menganugerahi akal sebagai dasar taklif dan menurunkan Al-quran dan Nabi dengan sunnahnya (nash) sebagai petunjuk hidup manusia, sebagai kendali manusia dan dasar atau norma suatu kebenaran mutlak.
Ibarat ada seseorang akan pergi ke Masjid Al-Azhar, oleh temanya sudah diberi petunjuk arah dan peta jalan ke Al Azhar, tapi kok seseorang tadi tidak menggubris petunjuk temanya, akirnya dia tidak sampai ke masjid al azhar….Skarang pertanyaanya,,Seseorang tadi tersesat atau mensesatkan diri????Siapa yang salah dalam hal ini???kalau kemudian temanya marah, bukankah itu wajar dan logis, karena sudah diberi petunjuk kok malah tidak di gubris????!!!!!

Ketika Allah sudah memberi otoritas penuh kepada manusia dengan diberi kaedah2 suatu kebenaran mutlak, tetapi manusia tidak menggubrisnya, siapa sejatinya yang salah???!!bukankah manusia ini ibaratnya menyesatkan diri….???Ketika Allah sudah memberi isyarat melalui Rasulnya "tafkkaru fii alaail llahi, wa laa tafakkaru fiil LLahi!!!", namun manusia menabrak batasan ini dan akirnya dia sesat. Bukankah dia sejatinya mensesatkan diri???

Maka seperti yang kita ketahui bahwa agama dibangun diatas akal karena akal adalah jalan untk mengetahui naql (nash). Tapi apakah sebatas ber-akal saja untuk memahami agama???apakah cukup dengan ber-akal saja untuk menganalisis nash2 kulliyah?? apakah cukup dengan ber-akal saja untuk berijtihad seputar masalah2 kontemporer umat yg semakin kompleks???

Disana dituntut untuk meletakkan akal sesuai dengan fungsinya, yaitu tuntutan untuk meng-akal secara mendalam, dan itu yang kita kenal dengan berfikir. Oleh karena itu Allah memasukkan keduanya dalam Al Quran sebagai ‘alamah adanya perbedaan antara akal dan fikiran.
Kalau mas Qomar menuliskanya "afala ta’qiluun" maka saya menulis "afa laa tatafakkarun???" "afala tatadabarun???"

Because I think that you’a a clever man, so silahkan dipetakan sendiri hubungan antara akal, fikiran dan nash!!

Sya seorang muslim yang sadar dan yakin bahwa nanti pasti akan mati, bahwa segala sesuatu pasti akan dimintai pertanggungjawaban disisi Allah, dan azab neraka itu pedih.
Saya juga berpandangan orang yang berani menentang Allah dengan hujjah akalnya, kendatipun mereka ini mengaku berfikir dan mengaku Islam, dimata saya sejatinya mereka ini tidaklah berfikir …
kenapa???
jawaban singkatnya bahwa dalam islam tidak akan pernah terjadi tanaaqud antara al ‘aql dan an naql (akal dan nash),
Klo mau lebih dalam lagi mencari keterangan diatas silahkan baca sendiri bukunya Dr. Muhammad Imaraah "al islam fii ‘uyuuni gharbiyah, baina iftiraail juhalaa wa inshaafil ‘ulama" halaman 23, tapi akan lebih baik klo dibaca dari depan..

Kita berakal oleh karena itu harus berfikir,,,kenapa juga harus takut berfikir, kita kan punya Al Quran dan Sunnah, dari ke- dua-nya kita kan tau dan punya garis2 batas sesuatu yang tidak bisa dijamah oleh pikiran.

Jadi jangan sampai kita menjadi orang yang berakal tapi tidak berfikir,,
Bagi saya orang yg melarang berfikir, sejatinya dia telah membuat PENJARA dalam hidupnya..
Kasian sekali orang yang di penjarakan oleh pikiranya sendiri seperti ini..
dan sekali lagi jangan takut berfikir…
dan jangan penjarakan diri anda oleh pikiran anda sendiri!!!

trims tanggapanya………….


(August 4th, 2007 by almanafi)

Read more >>

Dialog Intelektual

Manusia sejak diciptakan Allah telah di beri tanggung jawab mengelola bumi, itu berarti manusia diberi otoritas penuh dalam mengatur dan mengelola dunia ini. Pedoman dasar sebagai rujukanya adalah Al Quran dan As Sunah. Kemudian dalam perjalananya muncul pertanyaan besar "bagaimana seandainya nash nash Al Quran dan Sunnah tidak mengcover perkembangan dan kemaslahatan manusia, bahasa sederhananya masalah kontemporer yg muncul tidak terdapat dalam nash???"…"bagaimana sebuah realitas membangun sebuah hukum?"…"bagaimana konsep ijtihad?"…"bagaimana mendialogkan antara ijtihad dan realita?"…Bahwa konsep ajaran Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin tidak akan pernah berbenturan dengan kemaslahatan umat manusia. Adalah rang yang salah dan berpikiran sempit kalau kemudian mengklaim bahwa ajaran Islam sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu bagi siapa pun yang masih berani berfikir, sya ajak untk banyak2 membaca dan membaca. Manusia hidup dalam dimensi ruang dan waktu, itulah waqi’ atau realita yg dihadapi. Berangan2 dengan idealisme selangit jikalau sekedar mimpi hanyalah kalam fadi (omong kosong). Jangan takut berfikir, artinya adalah banyak2 membaca untk kemudian bisa mengkolaborasikan dan mengkomparasikan berbagai ilmu2 yang masuk…bisa merasakan dialog intelektual dalam diri, itulah sejatinya kebesaran anda!!

Read more >>

Sandimejo (Ahmad Tohari)

Usai mengantar seorang pasien ke Puskesmas Mersi, Purwokerto, Sandimeja (75 tahun) meninggal di atas becaknya. Lelaki renta itu ditemukan sudah tak bernyawa oleh rekan sesama tukang becak yang melihatnya duduk terkulai seperti orang tidur. Namun setelah diteliti ternyata Sandimeja sudah meninggal.

Ini berita kecil yang termuat dalam sebuah koran lokal Jumat pekan lalu. Dalam berita itu hanya dimuat data bahwa Sandimeja adalah warga Jalan Pancurawis, Purwokerto Kidul, serta dugaan dia meninggal karena serangan jantung. Tidak disebutkan adakah Sandimeja meninggalkan anak-istri atau cucu dan berapa jumlahnya. Tidak juga disebutkan mengapa Sandimeja yang sudah renta itu masih bekerja berat sebagai penarik becak. Ya. Warna dan watak pemberitaan itu adalah warna dan watak kita; menganggap kecil, kurang penting, dan tidak menarik kematian seorang miskin. "Sandimeja yang tua dan melarat itu meninggal di atas becaknya."

Paling-paling demikian komentar dan tanggapan kita karena kematian seoerti itu dianggap sebagai hal biasa. Bahkan mungkin ada yang bilang, "Salah Sandimeja sendiri, usia sudah setua itu masih ngoyo menjadi penarik becak."

Salah Sandimeja sendiri? Ya, kemiskinan adalah ‘kesalahannya’. Kemiskinan yang membuat dia tidak berdaya atau ketidakberdayaan yang membuatnya miskin. Terserah mau dimulai dari mana, yang jelas Sandimeja adalah bagian dari masyarakat miskin yang mewarnai kenyataan hidup masyarakat kita. Juga terserah mau diberi kategori apa; Sandimeja miskin karena struktur dan sistem ekonomi masyarakat kita atau dia miskin karena tradisi kultural yang dia terima secara turun-temurun atau gabungan antara keduanya.

Bila hendak dikatakan Sandimeja miskin karena struktur dan sistem ekonomi kita, ada benarnya. Seorang tukang becak mustahil mengembangkan daya ekonomi misalnya dengan meningkatkan intensitas produksi jasa. Mustahil juga melakukan ekstensifikasi usaha karena tidak mungkin menarik lebih dari satu becak atau menjadi juragan becak. Untuk merintis jalan menjadi juragan becak Sandimeja harus rajin menabung atau mendapat kucuran dana kredit. Namun kedua hal ini juga hampir tidak mungkin.

Mungkin juga benar Sandimeja hidup dalam budaya kemiskinan. Dia menyadari kemiskinannya tetapi bersikap kurang peduli atau sudah menerimanya sebagai suratan. Karena itu dia, juga jutaan orang miskin lain, kurang punya greget atau motivasi untuk sedikit demi sedikit memperbaiki keadaan. Sering kita melihat tukang becak merokok.

Bahkan main judi dan minum miras. Hal ini membuktikan mereka memang kurang peduli terhadap upaya perbaikan hidup. Maka sering terdengar banyolan, "Orang miskin belum tentu sedih mengenai keadaan mereka. Jadi mengapa orang lain yang repot? Ah, jangan-jangan mereka malah lebih enjoy daripada para pembela keadilan sosial."

Ini banyolan yang sangat ironis. Dan mungkin menyesatkan. Masyarakat beradab tentu ingin menghilangan kemiskinan. Memang, Kanjeng Nabi pernah mengatakan lebih mengkhawatirkan iman orang-orang kaya daripada iman orang-orang miskin. Namun secara umum tidak mungkin Islam membenarkan kemiskinan berkembang karena banyak amal kebaikan yang dianjurkan dan hanya bisa dilakukan dengan sarana harta seperti berhaji, zakat, infak, sedekah dan sebagainya. Ali bin Abi Thalib juga mengatakan, "Andaikata kemiskinan berujud manusia maka dialah musuh pertama yang akan kupancung kepalanya".

Malah Kanjeng Nabi sendiri juga bersabda, "Jangan tinggalkan di belakangmu generasi yang lemah." Ironisnya di seluruh dunia masyarakat Islam, kecuali sebagian kecil penduduk Timur Tengah, terdiri atas kaum miskin bahkan sangat miskin. Kemiskinan global ini juga berakar dari dua hal, struktur dan sistem ekonomi global serta tradisi kultural masyarakat Islam sendiri. Sistem ekonomi global yang memiskinkan umat Islam berawal ketika Eropa mengambil alih kepemimpinan dalam sains dan teknologi. Mereka kemudian mengubah wajah dunia dengan revolusi industri yang mendorong lahirnya kolonialisme dan perampokan sumber daya alam bahkan harta masyarakat di Asia Afrika yang penduduknya muslim.

Kemudian lahir kapitalisme klasik yang sekarang berubah menjadi kapitalisme modern Multinational Corporation dengan menghilangkan batas-batas negara maupun bangsa. Dalam hiruk pikuk perekonomian dunia saat ini mayoritas umat hanya bisa menjadi obyek karena lemah dalam segala hal. Dalam bentuk miniaturnya obyek atau korban itu tampak dengan nyata pada sosok Sandimeja. Dia meninggal dalam usia 75 tahun hanya ditunggui kemelaratan yang diwakili becaknya.

Memang Sandimeja kini tidak lagi menderita. Mudah-mudahan dia akan bertemu dengan Kanjeng Nabi yang pernah bersabda, "Siapa yang punya telapak tangan kasar karena banyak bekerja maka dia adalah calon penghuni surga." Telapak tangan Sandimeja sangat kasar karena setiap hari bergayut pada besi kemudi becaknya. Meskipun begitu, akankah kita berpangku tangan membiarkan Sandimeja-sandimeja lain meninggal dalam sepi dan hanya ditunggui kemelaratan?

Nyatanya, begitulah yang kita lakukan selama ini. Padahal kita bisa menolong satu Sandimeja yang mungkin ada di dekat kita dengan cara misalnya, mengeluarkan zakat bulanan dari gaji atau penghasilan kita. Jadi sesungguhnya kematian Sandimeja di atas becaknya adalah tagihan kepada siapa saja yang mengaku beriman. Ada yang merasa tertagih? (RioL)

(Ahmad Tohari )
Read more >>