Pesantren Mu’allimin; Sekolahnya Para Dukun....!!!

Di suatu sore, pertengahan Februari 2001, terjadi percakapan antara seorang Ibu dengan anak laki-lakinya.

Emak: “Nak..setelah lulus SMP, kamu tak masukin pesantren aja yaa..???”

Kahfi: “Haah..pesantren.....??!!!??..amit-amit deh Ma’, pliss aku nggak mau masuk pesantren..!!”.

Emak: “Lhoo..kalo kamu ndak masuk pesantren, kami bisa jadi penjahat seperti teman-teman SMA yang lain..??”

Kahfi: “Lha emang Mama bisa jamin kalau aku masuk pesantren ndak akan jadi penjahat..??”

Emak: “Wis terserah, tapi Mama nyaranin, kamu masuk pesantren aja..!!”

Kahfi: “Yaa nanti tak pikir-pikir dulu Ma..Eh..tapi ngomong-ngomong nama pesantrennya apa..??”

Emak: “Gontor..!!!”

Kahfi: “Whaaat..yang santrinya sering digebukin pake rotan itu..??”

Emak: “Iya kalo nakal dan melanggar, kalo tidak yaa ndak digebuki..”

Kahfi: “Emooooohh....!!!”

Pada dasarnya, kata ‘pesantren’ memang tidak pernah masuk dalam kamus hidupku. Apalagi jika aku harus nyantri di dalamnya. Selama ini yang selalu hinggap di kepalaku adalah SMA jurusan IPA. Tapi sungguh menyedihkan, suatu sore Emak menyebut istilah baru itu di depanku; ‘PESANTREN’.

Persepsi yang ada di kepalaku, bahwa pesantren adalah tempat yang angker, tempat belajarnya para dukun. Di sana diajarkan ilmu-ilmu yang sungguh tak rasional, seperti mantra-mantra pemikat, santet, pengasihan dan kekebalan. Padahal, selama ini dari majalah Bobo yang kupelajari, hal-hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai ilmiah, bahkan termasuk syirik, dosa yang paling bangkotan dalam agama. Oleh karena itu, aku kembali menanyakan ke Emak perihal keseriusannya untuk memasukkan aku ke ‘sekolah para dukun’ itu..

“Iya..Mama serius kok Nur..!!”

Oh my God, aku ternyata dipersiapkan Mama untuk menjadi dukun..hiks..!!

Setelah percakaanku dengan Emak, hari-hari selanjutnya aku mulai banyak mengumpulkan informasi tentang pesantren dan kepesantrenan. Dan bagiku, tetap tak ada yang positif di dunia pesantren itu, karena jawaban yang kudapat pasti tidak jauh dari rotan, rendam, tampar, tendang, dan berbagai hukuman yang sungguh tidak manusiawi. Terlebih lagi, ada beberapa temanku yang alumni pesantren, namun di pasar dia malah menjadi tukang pembuat tato..ckckck..Inikah yang diinginkan Emak dari anaknya..??? Aya-aya wae si Emak..!!

...

******************

Aku: “Ma,,nil lhoo lihat, nilai UAN-ku bagus-bagus..karena itu, aku pingin sekolah ke SMA yang favorit di Solo..!!”

Emak: “Kamu milih di Solo apa Jogja..???”

Aku: “Wah..yang di Jogja pesantren bukan..???”

Emak: “Bukan,,namanya Aliyah..”

Aku: “Ooo..boleh-boleh..kalau gitu nanti aku lihat dulu ke tempatnya”

Emak: “Ndak usah, langsung aja daftar, soalnya sudah mau tutup. Itu anak gurumu PPKN juga ada yang sekolah di sana...!!”

Aku: “Haah..siapaa...???”

Emak: “Ita Purnamasari...seangkatan bareng kamu, tapi dia sudah di Jogja sejak SMP.”

Aku: “Wah..iya..iya aku sekolah ke Jogja aja...”

Setelah mencari nama sekolah itu, kemudian aku menelpon untuk syarat-syarat pendaftaran dan materi tes masuknya.

Aku: “Selamat pagi Pak, benar ini Mu’allimin Muhamamdiyah Yogyakarta??”

Mr. X: “Wa’alaikum salam..iya ini dengan Pesantren Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta”

Aku: “Haaaah....tolong bisa Bapak ulangi nama sekolah ini..!!?”

Mr. X: “Pesantren Mu’allimin Muhamamdiyah Yogyakarta..”

Aku: “Pesantren Pak yaaaa..???”

Mr. X: “Iya Mas, pesantren..!!!”

Aku: “(Dengan suara pelan, kulanjutkan pertanyaanku) Pak, bisa minta informasi tentang materi tes untuk masuk ke SMA..?”

Mr. X: “Syarat utama harus bisa baca Qur’an Mas..!!”

Aku: “Haaah..baca Qur’an..???”

Mr. X: “Iya, baca Qur’an..Apalagi Mas kan mau masuk Aliyah..”

Aku: “Materi ujian yang lain Pak..?”

Mr. X: “Bisa lulus ujian bahasa Arab..!!!”

Aku: “Haaah..bahasa Arab..???..hadoooh..Okelah Pak, nanti saya hubungi lagi. Selamat siang..!”

Mr. X: “Wa’alaikum salam...!!”

Hihihihi...jelas sekali perbedaan di percakapan antara orang yang berperadaban dengan manusia jahiliyah...ckckck..

Uuuh..aku sungguh merasa ditipu oleh Emak. Emak bilang itu bukan pesantren, tapi ternyata pesantren. Tapi ndak apa-apa, demi menyenangkan hati Emak, aku akan ikut ujian di ‘sekolah dukun’ itu. Sekalian jalan-jalan ke Jogja...hehe..^-^

Malam harinya, aku kembali mengingat-ingat materi tes’nya. Harus bisa baca Qur’an dan bisa berbahasa Arab..!!

Whaat...al-Qur’an..??

Aku dulu pernah ikut TPA di kampung, tapi terpaksa harus keluar karena hampir sebagian besar santri tidak mau berangkat TPA kalau ada aku. Alasan mereka sederhana, takut ditendang dan dipukul oleh Kahfi...!!!!..ckckckck...

Akhirnya, aku ‘murtad’ dari TPA ketika baru sampai Iqra’ 3. Karena itu, hari ini aku mencoba membuka kembali ‘kitab suci’ yang sudah lama tak pernah kusentuh. Pertama kubuka, kepalaku sudah pusing karena aku benar-benar sudah tidak bisa membedakan lagi antara ‘alif’ dan ‘lam’..huuf..

Jika Emak melihatku, aku selalu berpura-pura mempelajari Iqra 3. Namun suatu hari, karena aku ingin bergaya sok sudah bisa membaca al-Qur’an, dengan PD kutentang al-Qur’an ke dapur agar gaya bacaku bisa didengarkan oleh Emak... Dasar sial, sudah melantunkan bacaan, ternyata ditegur oleh Emak “Nur..iku al-Qur’anmu kebalik..!!! ckckcckckck....isiineeee pooooolll....ckckck...ternyata cara pegang Qur’anku kebalik..

**************

Terus bagaimana dengan materi bahasa Arab yang juga menjadi materi tes..??

Wah, kalau itu benar-benar ndak terpikirkan. Sementara ini aku hanya ingin formalitas saja mengikuti tes, alasan utamaku karena ingin jalan-jalan ke Jogja dan ingin memuaskan hati Emak..hihi..

Hari Tes Masuk Pesantren..

Pagi itu, sekitar pukul 08.00 aku sudah sampai di lokasi tes, Pesantren Mu’allimin Muhamamdiyah. Karena tes akan dilaksanakan pukul 09.30, aku menyempatkan diri berbincang-bincang dengan satpam (belakangan tak ketahui satpam itu adalah Pak Agus).

Aku: “Pak, di pesantren ini diajarkan ‘ilmu’ apa saja..??”

Pak Agus: “Wah, banyak Dik, hampir semuanya ada, lengkap..!!”

Aku: “Ooooo...githu yaa Pak..” (Dalam hati: “wah berarti memang ini sekolahnya para dukun yang paling ampuh di Jogja..!!)

Tak lama setelah perbincangan kami, tiba-tiba ada seorang yang berjenggot panjang sedang memasuki gerbang sekolah. Dalam hati aku berkata “Ini diaa niii dedengkotnya dukun di sini..pasti dia sudah pernah ikut dalam team pemburu hantu di Indosiar..!!!” ckckckc....

Jam masuk untuk tes’pun dimulai. Gedung tempat aku test berada di gedung timur yang menghadap ke barat. Sebelum lembar tes dibagikan, ada pesarta yang datang terlambat, dia nylonong saja duduk di sampingku. Penampilannya serem karena menggunakan jubah besar. Belakangan kuketahui namanya Muhamamd Sholeh, asli Madura.

Detik-detik menjelang lembaran dibagikan amat menegangkan. Dari bau bangunan yang kutempati ini, sepertinya aroma magic-nya kental sekali. Aku yakin, bangunan ini sering digunakan praktek para santri untuk memburu hantu..ckckck..dasar sekolah para dukun..!!

Dan alangkah terkejutnya aku ketika menyaksikan orang yang membagikan kertas lembaran tes. Orang itu adalah ‘dedengkot para dukun’ yang kutemui di gerbang tadi. Jenggotnya yang panjang dan tak beraturan benar-benar membuatku syok untuk mengikuti ujian. Aku yakin, meskipun ia sedang duduk di bangku depan, tapi pada dasarnya ia mempunyai indera ke enam atau telepati untuk bisa mengetahui siapa yang mencontek di ujian ini.. Bahkan aku punya pikiran, ia menyuruh jin untuk mengawasiku dari balik pinggangku... Wah, benar-benar sakti si jenggot ini, tanpa kusadari, mentalku ciut membayangkan ada jin yang berada di belakangku...!!!

******************

Setelah ujian tulis, kemudian dilanjutkan wawancara. Lokasi gedungnya masih sama, hanya saja ruangannya sudah berbeda. Ketika aku memasuki ruangan itu, aku disambut oleh foto orang tua yang memakai topi sorban, tergantung di tembok menghadap ke barat. Sambil berjalan mendekati penguji, aku terus memperhatikan wajah kakek tua itu. Lama-lama aku benar-benar merinding. Aku benar-benar yakin, kakek itu adalah dukun yang ilmunya paling sakti di sini, dan kesaktiannya melebihi si jenggot panjang tadi. Sampai di sini, ingin segera kumengangkatkan kaki dari pesantren ini. Benar-benar penuh mistik..!!!

Dua orang yang duduk di hadapanku masih sangat muda. Mereka memperkenalkan diri, yang sebelah kanan namanya Bapak Muhammad Ikhwan Ahada, sedangkan sampingnya adalah Bapak Malik..

Pak Ikhwan: “Mas Kahfi, dari mana asalnya..??”

Aku: “Dari Solo Pak..!!”

Pak Ikhwan: “Heem..Solonya mana..??”

Aku: “Ke selatan kurang lebih 1 jam..”

Pak Ikhwan: “Ooo...Oke, tahu informasi tentang sekolah ini dari siapa..??”

Aku: “Dari Emak..”

Pak Ikhwan: “Mas Kahfi serius ingin sekolah di sini..??”

Aku: “(Dalam hati: “Mit-amit..sorry yee..gue kagak mau jadi dukun”)”Iya Pak...”

Pak Ihhwan: “Mas Kahfi merokok..???”

Aku: (Karena aku yakin sekolah ini tidak akan menerima muridnya yang merokok, maka dengan tegas aku menjawab) “Iya Pak, saya perokok berat sejak SMP..”

Pak Ikhwan: “Ooo..iya tidak apa-apa, asalkan nanti kalau diterima di sini, merokoknya harus berhenti yaa..!!”

Sambil meninggalkan ruangan, kuperhatikan lagi foto dukun sakti bertopi sorban yang tergantung di tembok. Di bingkai tertulis Kyai Haji Ahmad Dahlan..!! Wah, benar-benar sakti, gelarnya saja sudah Kyai, pasti punya jin banyak banget nie orang..ckck...dasar sekolah dukun..!!!

*******************

Hari ini semua urusan di sekolah ini sudah selesai. Dan aku tidak menanyakan kapan pengumuman penerimaan siswa yang lolos tes. Karena jelas, keinginanku hanyalah ingin memuaskan Emak yang berambisi anaknya masuk pesantren.

Sebelum meninggalkan area sekolah, aku menyempatkan melihat-lihat aktifitas siswanya. Dalam hati aku berkata “Ah, lihat-lihat calon dukun yang sedang belajar ilmu kebal aaahh... Atau siapa tahu mereka sedang belajar ilmu memburu hantu..ckckc”

Namun, belum sempat niatku itu terlaksana. Di depan masjid aku bertemu lagi dengan si-jenggota panjang. Aroma mistiknya mengurungkan niatku untuk berjalan berseberangan, sehingga kuputuskan untuk segera meninggalkan sekolah angker ini.. Good byeee...^-^ .

*****************

Takdir Tuhan

Setelah beberapa waktu aku sibuk menuruti keinginan Emak untuk masuk di pesantren, kini saatnya aku untuk mendaftar di sekolah impianku, sekolah terfavorit se Solo. Akhirnya kutelpon pihak sekolah. Dan dengan nada optimis, aku membuka percakapan..:

Aku: “Selamat siang, benar ini SMA 1 Surakarta..??”

Mr. X: “Iya benar, ini dengan siapa dan apa yang bisa kami bantu..??”

Aku: “Pak, saya mau mendaftar, kira-kira kapan tes masuknya..??”

Mr. X: “Wah, maaf Dik, untuk pendaftaran sudah ditutup sejak dua hari yang lalu...!!”

Aku: “Haah..kok bisa Pak, bukannya di brosur terakhir masih 6 hari lagi...?”

Mr. X: “Iya benar, tapi karena dua hari yang lalu sudah penuh, yaa akhirnya ditutup..”

Aku: “Ooo..terus ada gelombang dua ndak Pak..??”

Mr. X: “Sekolah ini tidak pernah membuka pendaftaran gelombang dua Dik..”

Aku: “Lha berarti saya sudah tidak bisa daftar donk Pak..??”

Mr. X: “Ndak bisa Dik, sudah tutup...^-^”

Aku: “Oooo yaa sudah, terima kasih Pak...”

Sambil kuletakkan gagang telepon, air mataku menetes. Aku menangis tersedu-sedu karena salah satu impianku telah sirna melayang termakan oleh ambisi Emak...hikss..Aku benar-beanr marah sama Emak...Aku juga benci pesantren....!!!

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi tidur di rumah. Aku lebih memilih menangis di rumah kakek, duduk sendiri di pinggir sumur. Aku sungguh-sungguh menyesali kebodohanku menuruti kemauan Emak.. Jiwaku saat itu penuh kebencian. Aku benar-benar muak, sampai-sampai kuputuskan untuk tidak mau lagi kembali ke rumah.

Melihat hobi baruku yang sering menangis di bibir sumur, akhirnya kakek menutup sumurnya dengan seng yang ditali kawat. Ketika kutanya kenapa kok ditutup, jawaban kakeku sederhana: “Agar kambing tetangga tidak kecemplung sumur..” (Hihihihih..)

Akhirnya pada suatu hari, aku kehabisan pakaian ganti. Maklum karena seorang pelarian dan tak sempat membawa pakaian ganti, itu artinya aku harus kembali ke rumah untuk mengambil pakaian. Kuatur siasat agar kedatanganku ke rumah tidak diketahui orang rumah. Kuputuskan untuk memilih hari Sabtu pagi. Karena pada hari itu, Emak pasti ke pasar dan diantar Bapak.

Dalam perjalanan ke rumah, aku sudah mengatur rencana. Nanti kalau sudah berhasil mendobrak masuk, aku ingin memecahkan piring biar terkesan ada pencurian..hihihi..

Sambil mengendap-endap, aku memastikan rumah dalam keadaan kosong. Seperti biasa, pasti pintu belakang tidak dikunci. Setelah kupastikan rumah dalam keadaan kosong, dengan santai aku masuk ke kamar. Secara cepat kumasukkan pakaianku ke dalam sarung dan kuikat, persis seperti orang yang diusir dari kampung karena maling ayam..hihi..

Namun, ketika aku sedang asik memilih-milih pakaian, pintu kamarku tertutup secara cepat dan keras “DooR.rr...”. Aku ‘misuh’ sejadi-jadinya karena kaget. Ketika pintu itu ingin kubuka kembali, ternyata tidak bisa karena sepertinya sudah terkunci. Aku duduk termenung memikirkan ide keluar. Namun, saat aku sedang khusyu berfikir, pelan-pelan namun kemudian menggelegar, kudengar suara orang tertawa sejadi-jadinya dari luar pintu...

Whaaaaaatttt.....ternyata suara orang ngakak itu adalah suara Bapak dan Emak...!@@#@$@$@%@!!##

Oh nasiib...apes bener pelarianku ini..My God....!!!!

*********************

Bersambung..



(Potongan mozaik hidupku.,Ketika Mu'allimin mewarnai dan membentuk pola pikirku.. ^_^
8 dari 70 halaman.)

Read more >>

Pendidikan Indonesia; Ambisi Kekuasaan dan Pendidikan berbasis Kerakyatan

Indonesia dalam perjalanan sejarahnya pernah menjadi negara yang diperhitungkan dunia. Salah satu negara yang pernah mendapat julukan "Macan Asia" sekitar tahun 80-an, tetapi kini harus menerima kenyataan bahwa julukan itu sudah sudah tidak layak. Kenyataan ini tidak bisa kita pungkiri, dengan potret buram TKI kita yang disiksa di luar negeri, seakan-akan sudah menjadi hal biasa untuk dijadikan pemberitaan di TV ataupun surat kabar, baik dalam dan luar negeri. Bahkan berita adanya penyikasaan dan pembunuhan TKI di luar negeri-pun jarang sekali menjadi head line.

Dalam dua dasawarsa terakhir, bangsa Indonesia mulai kehilangan taringnya di hadapan bangsa-bangsa lain. Hal ini karena mutu manusia-manusia Indonesia tidak bisa bersaing di dunia internasional. Merosotnya sumber daya manusia Indonesia ini memunculkan berbagai pertanyaan dan analisa, diantaranya mereka yang menyorot kemerosotan ini karena sistem pendidikan yang carut marut, rezim kekuasaan dan lain sebagainya.

Otoritas Kekuasaan dan Sistem Pembodohan Rakyat

Secara arif diakui bahwa penyebab dari kemerosotan sumber daya manusia Indonesia ini adalah karena carut marutnya sistem pendidikan di Indonesia yang mengakibatkan pembodohan terhadap rakyat. Sistem pendidikan di Indonesia berganti-gati mengikuti rezim kekuasaan, sehingga terjadi kebingungan di pihak penyelenggara pendidikan untuk mengambil visi dan misi sebagai orientasi pengajaran. Ketidak jelasan visi dan misi merupakan hal yang sangat vatal, karena selain mengaburkan orientasi goal-goal yang akan diperoleh, juga visi dan misi sangat menentukan out put dari peserta didik.

Peradaban selalu dibangun di atas ilmu, itu artinya pendidikan merupakan pondasi dasar sebuah peradaban. Kekacauan yang terjadi dalam pendidikan Indonesia, bisa dijadikan taruhan dari eksistensi bangsa ini. Karena globalisasi yang masuk ke segala line keahidupan, dibutuhkan manusia-manusai yang mampu bersaing, mereka yang mempunyai SDM unggul, sedangkan manusia-manusai Indonesia tetap dalam kukungan ketidakjelasan mengikuti ambisi penguasa.

Pendidikan, secara umum menjadi tangung jawab negara. Konstitusi membebankan tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan nasional kepada pemerintah. Tetapi kenyataannya, kinerja negara dalam mendukung pendidikan dasar masih sangat masih rendah. Bahkan dalam sejarah bangsa ini, negara pernah menjadi momok yang bertanggung jawab atas pembodohan terhadap rakyatnya sendiri. Dan fenomena in berlanjut sampai sekarang.

Pendidikan yang sebenarnya diorientasikan untuk mengembangkan daya nalar kritis, pernah dipasung oleh rezim yang begitu takut terhadap demokrasi demi memuruti ambisi kekuasaannya. Bahkan parahnya, sistem pendidikan seakan-akan menjadi alat para penguasa untuk memperbudak rakyatnya sendiri dengan mengontrol secara ketat materi-materi pengajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. "Rakyat boleh pintar tapi tidak boleh kritis", kata-kata yang pernah terucap oleh Ali Murtopo, yang begitu tiran menjadi penyokong rezim orba era 80an.

Karena itu, carut marutnya pendidikan di Indonesia, kita tidak bisa serta merta menyalahkan pengajar atau guru atau peserta didik saja. Karena secara struktural mereka berada dalam garis mandat dengan kurikulum yang dikontrol oleh rezim kekuasaan yang berlaku. Bahasan rumit ini diterjemahkan oleh rakyat secara sederhana bahwa setiap berganti menteri, ganti pula sistem pendidikannya. Ganti sistem, ganti pula kurikulum. Ganti kurikulum, ganti bahan ajar.

Banyaknya gedung sekolah yang sudah tidak layak pakai, bahkan ada yang sampai roboh, para guru yang bekerja sambilan sebagai tukang ojek, gaji guru honorer yang belum diberikan walaupun sudah bertahun-tahun mengabdi, ini mengisyaratkan kalau bangsa ini biarpun sudah beberapa kali terjadi pergantian pemimpin, tetap tidak adanya keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan masalah pendidikan ini. Janji penguasa hanyalah janji yang tak lebih dari sekedar kebohongan sebagai bumbu penyedap.

Komersialisasi Pendidikan

Ada satu fenomena yang menarik dalam dunia pendidikan Indonesia, yaitu terjadinya komersialisasi pendidikan. Dengan mendirikan sekolah berlabel “sekolah terpadu” atau dengan label yang lain, pihak sekolah menarik biaya sekolah yang sangat tinggi. Sehingga yang bisa menyekolahkan anaknya ke sini hanyalah mereka kalangan ekonomi atas. Dan sekarang, dengan dukungan dari negara, sekolah-sekolah “ber-merk” ini sudah banyak kita jumpai di Indonesia.

Dalam hal ini, negara sebagai pihak penyelengara pendidikan, secara langsung telah ikut andil dalam menciptakan kesenjangan dalam dunia pendidikan rakyatnya. Kenyataan ini juga mengisyaratkan bahwa negara sebagai institusi penyelenggara pendidikan telah “berkhianat” terhadap rakyat. Karena jelas undang-undang dasar mengatakan bahwa seluruh rakyat Indonesia berhak memperolah pendidikan dan pengajaran yang sama.

Dengan demikian, berdirinya sekolah ber-merk tersebut, hak mendapatkan pendidikan yang bermutu bagi rakyat bawah hanya sekedar angan-angan saja. Meskipun tidak jarang dan bahkan banyak kita jumpai anak yang secara ekonomi tidak mampu tetapi memiliki bakat atau kecerdasan yang luar biasa. Dan mereka hanya bisa mendapatkan pendidikan di sekolah yang bangunanya sudah miring dengan fasilitas yang sangat terbatas.

Solusi

Dengan membaiknya iklim demokrasi di Indonesia, sejatinya adalah jalan lebar untuk membuat trobosan-trobosan baru dalam dunia pendidikan, seperti pemetaan sistem pendidikan Indonesia yang sekarang masih belum jelas, peningkatan kemampuan pengajar dan menejemen pengelolaan pendidikan. Hal ini di lakukan untuk lebih memberi kesempatan terhadap penyelenggara pendidikan agar lebih fokus terhadap visi dan misi sebagai orientasi pelaksanaan pendidikan. Sehingga dari sini, out put dari lembaga pendidikan bisa dinilai secara objektif.

Namun yang lebih penting adalah penyelenggaraan pendidikan berbasis kerakyatan, adalah pendidikan yang tidak komersil dengan orientasi untuk pengembangan sumber daya manusia. Atau dengan istilah lainnya adalah pendidikan yang memanusiakan manusia; pendidikan ini dilaksanakan secara merata kepada rakyat dengan menyamakan kualitas lembaga pendidikan. Langkah ini tidak bisa ditempuh kecuali adanya penambahan anggaran pendidikan dari pemerintah, sehingga tidak ada lagi sekolah yang secara kualitas dan biaya masih ber-merk.

"fallacy of retrospective determinism". Kesalahan berpikir yang hanya memahami suatu keadaan sosial sebagai kenyataan yang sudah seharusnya terjadi. Semoga bangsa Indonesia tidak memahami keterpurukan yang sekarang terjadi dalam banyak line kehidupan ini sebagai takdir Tuhan yang memang sudah digariskan...Wa'lLahu 'alam bi as-shawâb.

* Student University of Politic and Law.

(Coretan dua tahun yang lalu dalam rangka hari pendidikan..)

NB.

Teruslah berfikir untuk berubah, karena bangsa ini butuh perubahan..
Jika kita tidak mau berfikir untuk berubah untuk perubahan, maka siap-siaplah menerima kehancuran..
Ini peradaban kita, ini adalah generasi kita...
Jangan sampai peradaban kita dirusak oleh manusia-manusia picik tanpa nurani..!!!
Read more >>

Spektrum Moral di Kota Pelajar ‘Jogjakarta’

Berbicara tentang moral, berarti berbicara tentang sebuah nilai. Dan ketika berbicara tentang sebuah nilai, hal pertama yang harus dikaji adalah asal usul atau dasar suatu nilai tersebut dibangun (epistem). Epistem atheisme yang merupakan embrio dari nilai-nilai komunisme misalnya, akan menjadi wordview dimanapun paham ini berkembang. Artinya nilai-nilai tersebut akan melebur berbarengan dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakat, dan menjadi dasar pembentuk frame berfikir dan karakter masyarakat; metamorfose dan peleburannya menjadi standar moral bagi masyarakat.

Nilai-nilai moral, dengan sifatnya yang sangat universal, menempati urutan utama dalam setiap ajaran agama dengan fungsi utamanya sebagai pembangun dan pembentuk masyarakat. Secara dinamis, nilai-nilai moral ini akan menjadi referensi utama masyarakat atau sandaran dari ukuran kelayakan dan kepantasan yang langsung dihubungkan dengan titah ketuhanan (perintah agama). Dengan demikian, jika kita menempatkan agama sebagai premis mayor dan moral sebagai premis minor, maka kesimpulannya adalah masyarakat yang beragama adalah masyarakat yang bermoral.

Namun, nilai-nilai moral yang sifatnya konstan dan abstrak tersebut, ternyata bukanlah suatu yang lepas dari pergeseran dan perubahan. Bukan hanya nilai-nilai yang dibangun atas dasar materialisme, bahkan nilai-nilai konstan agama juga mengalami pergeseran dan perubahan. Dan di poin ini-lah kita akan memberikan konsentrasi lebih; pembacaan dalam sebuah spektrum terhadap benturan dan perubahan nilai-nilai yang berada di tengah masyarakat kita, khususnya di Jogjakarta.

Jogjakarta, kota yang sangat mashur, tidak hanya di dalam negeri, bahkan sampai di luar negeri. Selain kaya akan warisan budaya dan sejarah, kota ini juga menjadi icon sebagai ‘kota pelajar’, yang menjadi daya tarik lebih bagi para pencari ilmu. Secara kultur budaya, masyarakat Jogja merupakan asimilasi dari peradaban Hindu-Islam, dan mengalami proses islamisasi sejak berdirinya kerajaan Mataram Islam sampai saat ini. Dengan demikian, nilai-nilai Islam menjadi pilar utama dari pembentukan masyarakat Jogjakarta.

Meskipun mewarisi kultur kraton yang notabenenya Islam, saat ini Jogja mendapati dirinya sedang dalam masa-masa degradasi budaya, lebih tepatnya degradasi moral masyarakat dari nilai-nilai Islam yang telah ratusan tahun menjadi wajah ‘Mataram Islam’.

Sudah bukan menjadi sesuatu yang ganjil, nilai-nilai agama yang sangat dijunjung tinggi itu kini telah diinjak-injak, ditinggalkan dan pelan-pelan akan dilupakan. Spektrum dari degradasi moral yang sangat memprihatinkan ini dapat kita saksikan hampir tiap detik di kota yang menjadi icon ‘kota pelajar’ tersebut. Di Jogja, bercokol tempat yang paling menjijikkan sebagai area pengumbar nafsu-nafsu binatang ‘beragama’, Pasar Kembang.
Di kawasan teretorial ‘Mataram Islam’ tersebut, beberapa diskotoik dan tempat hiburan malam yang semuanya menjadi tempat ‘syah’ bagi kaum pencari kenikmatan sesaat; minum-minuman keras, free sex, judi dll.

Sebenarnya keadaan ini tidak menjadi persoalan serius jika berada di jantung kota Eropa atau Amerika, yang secara akar budaya mereka sebagai pemuja dan penganut paham materialisme. Tetapi Jogjakarta, adalah kota pelajar yang bisa memutih karena jilbab-jilbab pelajarnya, kota santri yang riuh reda suara TPA santri-santrinya, dan didukung oleh beberapa universitasnya, menjadi sangat paradoks dengan kenyataan yang demikian. Inilah spektrum dari paradoks yang secara umum bisa digambarkan.
Kemudian pertanyaanya “What’s exactly happening there???...Apa yang sebenarnya terjadi di Jogjakarta???...”

Jogjakarta, sebagai tujuan wisata memang sangat ramai dikunjungi oleh para wisatawan asing, baik dari Barat atau Timur. Namun dalam kasus yang kita hadapi sekarang, terlalu naïf jika kita menganggap mereka sebagai biang ‘kebobrokan’ yang saat ini melanda Jogjakarta. Jadi, tentu objek tembak yang lebih tepat untuk dibidik tidak lain adalah para penghuninya sendiri. Mereka yang sebenarnya bertanggung jawab terhadap apa yang sedang terjadi di Jogjakarta, dan tentu bagi penulis, mereka adalah para pelajar, mereka adalah para santri, mereka adalah kalangan-kalangan terdidik dan berpendidikan. Merekalah yang memberikan warna Jogjakarta, baik yang sifatnya ilmiah bermartabat, sampai najis dan haram menginjak-injak moral.

Di sini, kita benar-benar menjumpai bahwa di kota pelajar tersebut sedang atau bahkan telah terjadi pergeseran nilai. Manusia-manusia berpendidikan, berdasi dan berkopiah, dan pelajar-pelajar putri yang anggun berjilbab, banyak ternyata yang telah kehilangan karakter. Mereka mengalami erosi iman dan moral yang sangat parah. Bukti konkrit dari hal ini dapat kita sebutkan, misalnya pacaran yang begitu sangat vulgar (pelukan, ciuman) sudah menjadi hal biasa dan bisa dilakukan di jala-jalan, area kampus, artinya sudah menjadi konsumsi publik yang tidak perlu orang lain peduli dan tidak perlu ditegur. Atau pergaulan bebas (sex bebas) di tempat kost yang justru warga kampung menjadi 'security' dari incaran aparat.

Hilangnya rasa malu ketika perbuatan amoralnya dikonsumsi publik, atau bahkan secara sukarela mereka publikasikan sebagai wujud pembuktian atas ke’eksistensi’-an “intelektualnya” yang “adi luhung”, adalah beberapa bukti bahwa di kota pelajar tersebut sedang mengalami pergeseran nilai, erosi iman dan moral yang cukup parah.

Padahal...

Puluhan bahkan ratusan pesantren dan lebih dari sepuluh universitas dan Sekolah Tinggi bisa kita jumpai di Jogjakarta. Bahkan tidak kurang dari empat perguruan tinggi Islam dan Sekolah Tinggi Islam berada di sana. Lembaga pendidikan tersebut berperan dalam membentuk manusia-manusia berkarakter dan berintelektual dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moral agama. Tetapi ternyata kita menyaksikan banyak manusia-manusia dari panggung pendidikan tersebut lulus membawa ijazah namun dalam kondisi kosong iman dan miskin karakter. Mereka tak ubahnya sebagai pelacur intelektual.

Dan jika kita memberikan stresing lebih pada bagian ini, maka pertanyaanya adalah “Dimanakah posisi lembaga pendidikan?..Apa sebenarnya fungsi lembaga pendidikan tersebut?..Apa yang sebenarnya telah mereka ajarkan?..Patutkah mereka disalahkan?...

Lihatlah berapa kontrakan atau kost pelajar yang berisi minuman keras….!!!
Lihatlah berapa banyak kontrakan atau kost pelajar yang dijadikan tempat ber’mesum’ ria….!!!
Lihatlah banyaknya ‘pelajar’ di Alun-Alun Jogja (malam hari) yang sedang hanyut ditenggelamkan setan bersama ‘pasangannya’masing-masing
….!!!
Dan perhatikan bukankah sebagian mereka BERJILBAB….!!!!???

Jogjakarta MeNanTaNg Tuhan…!!!!!!

Inilah kompleksitas permasalahan yang ada di hadapan kita, seperti sebuah siklus, akan terus berputar saling berkaitan dan mengaitkan. Dan Jogjakarta, sebagai miniature Indonesia, kini sedang mengalami distorsi moral, yaitu suatu proses pemutarbalikan nilai, penentangan fakta kebenaran dari ajaran agama.,dan ini sedang terjadi di hadapan kita.

Mohon di TAG ke beberapa sahabat jika berkenan..!
Read more >>

Letupan Imajinasi

Letupan Imajinasi
Read more >>