Kapal Kertas

Ia duduk di sana, di atas batu putih. Sendirian, ia melempar pandangannya ke selatan, jauh pada objek yang tak terbatas, mengurai luasnya langit.

Dan lihatlah, kali ini matanya mulai bergerak, mengikuti daun yang diterbangkan angin. Daun itu melangit, lalu berputar-putar sebelum akhirnya menjauh ke arah jurang. Di arah itu, matanya tertahan, pandangannya kembali kosong.

Batu putih tempat ia duduk adalah ujung bukit yang sebelah timurnya merupakn jurang dengan kedalamandan ratusan meter. Curamnya ditumbuhi ilalang dan rumput-rumput akar yang lebat. Sekitar 300 meter dari dasar jurang, tumbuh pohon ringin yang sangat besar dengan akar-akarnya yang merayap di pelipir-pelipir bebatuan. Sesekali terdengar suara tetesan air dari dasar jurang, dan sahut-sahutan suara kodok, sebuah isyarat belantara tentang kesunyian dan angkernya.

Si rambut pirang itu berdiri, menegakkan tubuhnya di bibir jurang. Ia memandang dalam dasarnya, menyusuri setiap garis-garis batu. Tak lebih dari 300 meter di bawah, batas matanya tak mampu lagi menembus gelap. Pantulan sinar matahari sore hanya samp...


To be continued..

Read more >>

Jajannya Tukang Becak..


Suatu sore ketika masih nyantri di Jogja, sehabis les aku menyempatkan diri berkunjung ke Gramedia, yang kebetulan lokasinya bersebelahan dengan tempat les. Di toko buku ini aku memiliki tempat favorit untuk membaca, tepatnya di depan kaca bagian utara sambil menghadap ke arah jalan raya. Kira-kira satu jam berdiri, tak sengaja mataku melirik kaset CD yang bergambar tukang becak dengan latar tugu Jogja.

Setelah transaksi di kasir, aku cepat-cepat mengayuh sepeda ontelku melintasi jln. Sudirman ke arah Tugu, lalu ke selatan menyeberang rel kereta dan menyusuri jalanan Malioboro, terus ke selatan memasuki area alun-alun utara Jogja, lalu ke arah barat melewati jalan besar selatan Masjid Gede hingga ke terminal Pariwisata. Dari terminal Pariwisata, aku memutuskan untuk tidak ke selatan menuju jln. S. Parman, tapi kuputar stang sepedaku ke utara menuju warnet Valcon, Wirobrajan.

Setelah memilih bilik, kukeluarkan kaset CD yang barusan aku beli. Di cover CD tertulis judul film ““Daun di atas Bantal”, a film by Christina Hakim, sutradara Garin Nugroho”.

Dengan kaset ini, selama dua jam kemudian, aku diajak berjalan-jalan oleh Christina Hakim dan Garin Nugroho ke perkampungan sekitar area Tugu Jogja.

Tak banyak kata yang bisa kukeluarkan saat aku diajak menelusuri area Tugu. Christina Hakim mencoba membuka mataku dan menunjukkan satu kenyataan yang sama sekali tak pernah kubayangkan sebelumnya, yaitu sebuah siklus kehidupan kaum marginal yang ceritanya tak pernah keluar dari lingkaran kemelaratan, kelaparan dan kebodohan. Pemandangan ini luput dari pandanganku meskipun hampir empat kali seminggu aku pasti melewatinya.

Dalam dua jam itu pula aku baru menyadari di mana aku berada, bagaimana sejatinya metropolis Jogja, dan apa yang ada di balik gedung-gedung tinggi kawasan Malioboro, rumah-rumah reot pasar kembang, dan tepian sungai kali Code.

Selesai shalat di mushala warnet, kukayuh ontelku ke arah Malioboro untuk memastikan apa yang beberapa menit lalu kutonton. Dari arah selatan Malioboro, terlihat beberapa temanku sesama santri bergerombol duduk di trotoar taman kota. Beberapa di antaranya ada santriwati yang rambutnya masih tertutup jilbab. Sekedar menyapa seperlunya, aku lantas meneruskan ontelku melawan arus jalan Malioboro ke arah utara.

Di trotoar depan hotel Garuda, kurang lebih 100 meter dari Tugu Jogja ke arah selatan, kusandarkan ontelku di depan angkringan untuk menikmati beberapa bungkus nasi kucing. Sambil memperhatikan sekeliling area angkringan dan menerka-nerka latar filmnya Christina Hakim, datang seorang tukang becak yang menghampiri temannya –sesama tukang becak- yang duduk di sampingku. Merekapun terlibat pembicaraan dengan bahasa Jawa ngoko:


A: “Hoi, gimana malam ini, jadi jajan ndak...???”

B: “Jadi laah, tapi sekarang harganya naik 20 rb, soalnya barang baru...”

A: “Barang baru dari Cina atau dari Arab..??”

B: “Dari Taiwan...”

A: “Lha kok murah, jangan-jangan sudah barang rusak...??”

B: “Masih bagus kok, ndak jauh beda dari yang kemarin-kemarin..”

A: “Ooo..siip deh, nanti malem aku keparkiranmu..”


Setelah kedua tukang becak itu pergi, aku bertanya kepada nenek penjual angkringan: “Nek, barang dari Taiwan kok harganya murah-murah, itu jenis barang apa...??”


Nenek menjawab: “Jajanan sarkem Mas, harganya masih promosi...”

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un...$%$@&%*....”


Dan inilah Jogja, inilah wajah sebenarnya bangsaku, ia selalu timpang, tak pernah sadar dengan apa yang sedang membebaninya, ia kesakitan, namun tak pernah mau mengobati sakit yang menjangkitnya, ia terbungkam, namun terbungkam oleh tangannya sendiri. Dan hanya tangan Tuhan yang akan dan bisa mengurainya..

TUKANG BECAK “JAJAN” DI PASAR KEMBANG, kemiskinan dan kelaparan yang sering meraka elukan, ternyata tak separah dibanding dengan kering kerontangnya iman. Lantas pertanyaannya: “Dengan tiket apa surga akan dibeli jika iman sudah dijajakan...???????”

Penyakit yang menjangit bangsa ini ternyata jauh lebih parah dari sekedar “Inlander Mentality” dalam bahasanya Pak Amien Rais, atau “Slavish Mentality” dalam bahasanya Buya Syafi’i Ma’arif. Mungkin yang lebih tepat, apa yang dibilang oleh Cak Nun, bangsa ini sudah buta, tuli dan keclok koclok alias GILA..!!!

Setelah kurang lebih dua tahun kemudian di pertengahan 2006, Jogja diguncang gempa yang memporak-porandakan. Tak lama setelah itu di penghujung thn. 2010, Merapi mendapatkan gilirannya untuk berlaga..

Dan ke depan, bencana apapun yang terjadi di negeriku, aku tidak akan heran ataupun ragu tentang apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa terjadi, karena jawaban dan penjelasannya sudah pernah kudapatkan sendiri: “Tuhan sedang mengurai negeri ini dengan adzab-Nya...”


Cak Nun di “Negari Maiyah” setiap pengajian Padang Mbulan mengingatkan kita dengan salah satu syairnya:


“Jaman wis akhir, jaman wis akhir,

Jaman wis akhir, imane goyang, pikire muntir...”

(Jaman akhir, imannya porak poranda, sinting akalnya)
Read more >>

Masih ada waktu 6 bulan lagi..

Sedemikian istimewa Allah mengatur hidupku, sungguh-pun tidak ada orang tahu, yang pasti aku benar-benar merasakannya..

Beberapa bulan ini pertanyaan yang membuatku pusing adalah: “Apakah aku harus pulang cepat..??”, sampai tadi malam aku belum bias menjawab pertanyaanku tersebut. Dan alhamdulillah, ternyata Allah Swt. Memberikan jawaban pagi ini: “Jangan pulang dulu..!!”

Aku tidak akan pernah ragu dengan jawaban Allah, karena apa yang sedang kujalani saat ini pada hakekatnya adalah jawaban-Nya –pula- dari pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya. Karena jika hanya menggunakan rasional-nalar untuk melihat perjalanan –misalnya- studiku, nalar pasti akan bicara bahwa apa yang sedang kujalani saat ini tidaklah masuk akal..

Baru satu hari aku mendapatkan jawaban itu, saat ini aku sudah tersenyum, seakan-akan sudah bisa merasakan hikmah dari jawaban itu..

Aku masih diberi waktu 6 bulan lagi di Kairo, dan 6 bulan merupakan waktu yang singkat untuk sekedar menjalani hikmah dari jawaban Allah tadi..

Dalam waktu 6 bulan ini, Allah masih memberiku kesempatan untuk mengunjungi ka’bah, sujud di raudhah, dan berdoa di dekat makam Rasulullah Saw.. Inilah hikmah, karena jika aku pulang ke Indonesia cepat, mungkin umurku tak panjang, dan aku akan mati sebelum sempat ziarah ke tanah suci. Na’udzubilLah, sanggupkah aku membawa dosa yang bertumpuk-tumpuk untuk menghadapi hisabku di akherat kelak..??? (Yaa Rabb,.berilah kesempatan hamba-Mu ini untuk sujud di raudhah-Mu..)

Dalam waktu 6 bulan ini juga, aku diberi kesempatan Allah untuk menyelesaikan bukuku. Karena jika buku ini tidak selesai dan ajal lebih dulu menjemputku, maka amal apa yang bisa kubawa dan bisa terus memberiku kucuran pahala untuk kehidupanku kelak..?? Selebihnya, jika buku ini tidak selesai, lantas dengan apa aku akan mendapatkan biaya untuk bisa cepat-cepat mempersunting gadis itu..?? Hal yang sungguh memalukan jika masih meminta biaya orang tua..

Dalam 6 bulan ini juga, aku masih bisa merealisasikan agendaku untuk keliling Afrika. Semuanya ada di 6 bulan ke depan, dan merupakan waktu yang sangat singkat..

At last, my saying good bye for not coming to Vienna University this year. I promise someday I will scratch and write my name on your wall.. And my sincere sorry belongs to Prof. Sarah ‘Harvard’ for not completing my admission, totally I regret to miss your class,, I’ll meet you next year.. InsaAllah..
Read more >>

Titah Tuhan dan Bahasa Takdir (20)

Adolf Hitler dan Sayap Ayam

 
Hidup selama sebulan di asrama benar-benar membuatku frustasi, bukan hanya peraturannya yang super ketat, jam pelajaran yang sangat padat, namun juga menu makan yang sangat tidak ber-prikemanusiaan; bertentangan dengan imanku, juga menginjak-injak harga diri leluhurku..!

Kawan, tentu kalian pernah mendengar slogan Adolf Hitler dalam mempropagandakan misinya: “Sebarkan kebohongan dan ulang-ulanglah kebohongan itu, lama-lama ia akan menjadi kebenaran...!!”

Menurut tebakanku, mungkin dulu ada anak buah Hitler yang kapalnya terbawa angin dan terpontang panting di Laut Hindia, akhirnya kapal itu terdampar di Pantai Selatan Jawa, tak lama setelah terdampar, mereka ditolong oleh orang kampungku.

Sejak saat itulah kemudian slogan tadi menyebar di kampungku sebagai sebuah teori, dan lama-kelamaan semakin banyak orang kampungku yang bereksperimen dengan teori tersebut, maka semakin banyak pula kebohongan-kebohongan yang tersebar. Celakanya, sebelum kebohongan tersebut diklarifikasi, si eksperimentornya sudah keburu mati.

Berikut ini akan kusampaikan padamu kisahku tentang teori Hitler tersebut, yang karenanya aku sempat dibuat sengsara oleh seekor ayam, dan baru sembuh setelah beberapa tahun lamanya.

Kawan, tahukah kamu bahwa aku pernah trauma jika melihat ayam goreng,,??..

Dulu waktu aku kecil, suatu malam aku pernah makan bersama Kakek dan Nenek di rumahnya. Menu malam itu sangat istimewa, “ayam panggang”. Sudah menjadi kebiasaanku untuk meng-edit dan mencungkil-cungkil lauk sebelum siap dihidangkan ke meja makan, dan bisa dipastikan, nasib buruk selalu menimpa lauk yang paling enak, sehingga sebagai akibatnya, lauk-lauk tadi sudah terkelupas saat dihidangkan...^^.

Ketika sedang enak-enaknya makan, dari dapur terdengar teriakan Nenek:
“Hadoooh Gustiiiiii,,,,suwiwiiiii...suwiwiiiiiii....suwiwiiiiine ilaaaanggg..!!!”

“Suwiwi...”, tiruku lirih sambil memperhatikan daging ayam yang sedang kumakan.

Namun tiba-tiba jantungku hampir copot ketika Kakek juga ikut teriak sambil mengarahkan jarinya ke aku: “Hadoooooohhh.....iki suwiwineeeee....!!!”.

Karena kaget bercampur takut, daging suwiwi (sayap) ayam yang kupegang itu kulempar. “Jin kampret apakah yang berada di suwiwi itu...???”, batinku bertanya-tanya.

Tak lama kemudian, Nenek datang dengan membawa beberapa bunga yang dicampur dengan sedikit gula jawa dan terasi.

“Ayoo cepat dimakan, biar tidak kualat..!!”, ujar Nenek sambil menjejelkan bunga-bunga itu ke mulutku... Kawan, inilah kali pertama aku menjadi korban neo-satanisme, khurafat tingkat tinggi yang menjangkit sebagian besar masyarakat kampungku. (@,@)

Sejak malam itu, setiap kali kami makan ayam, Nenek selalu mengingatkanku agar tidak makan sedikitpun daging suwiwi, “Kalau makan daging sayap, kamu nanti kalau sudah besar akan susah cari kerja..”, terang Nenek dengan mimik muka serius.

Dan di sinilah teori Hitler tadi teruji empirisnya, cukup dengan melibatkan tiga komponen utama: aku, sang ayam, dan Nenek...^,^, teori tersebut terbukti eksis menjadi ‘imanku’ yang menutup rasionalku. Maka sejak saat itu, aku mempunyai iman baru, yaitu: “Menjauhlah dari SUWIWI agar hidupmu bahagia sentosa sepanjang masa...!! *ckckck..

---------------------

Seperti halnya sifat ilmu pengetahuan yang terus berkembang, maka teori-teorinyapun juga pasti banyak yang mengalami perkembangan, bahkan perubahan.

Setelah berjalan sekian tahun aku memegang kuat imanku itu, hari ini di depan pintu dapur ”sekolah dukun” ini aku memertanyakannya; perihal suwiwi. “Suwiwii..suwiwii.,, Di mana titik logisnya kamu bisa mengatur hidupku...?? Di mana titik nalarnya, kamu yang tergeletak tergoreng ini bisa menghalang-halangi aku untuk mendapatkan pekerjaan...??”.

Sambil kuperhatikan bentuknya yang tertelungkup dengan aroma gorengnya yang lezat, aku mentertawai diriku sendiri, “Oow,,betapa bodohnya aku selama ini...!”.

Lauk ini tidak akan pernah bisa menggaris nasibku, ia tak mempunyai kuasa sedikitpun untuk menentukan masa depan pekerjaanku..

Di saat yang sama pula, aku mengangkat topi tinggi-tinggi sebagai bentuk apresiasiku terhadap Adolf Hitler, kukatakan: “Aku yakin, teorimu tak akan lapuk dimakan waktu, Dof..” (-,-).v

Menjauh meninggalkan pintu dapur, kulambai-lambaikan kotak nasiku yang berisi SUWIWI goreng lengkap dengan sambalnya. Dan setiap kali aku mengambil makan di dapur, di pintu kamar selalu kubaca terlebih dahulu: “Menu hari ini: SAYAP + OSENG BUNCIS..!!! Dan selama 4 tahun kemudian, suwiwi menjadi lauk favoritku..^^

Inilah, satu mutiara yang pertama kali aku dapatkan dari “sekolah dukun” ini. Hal yang sangat fundamental, yang akan menjadi titik kompromi antara logika dan keimananku, warna yang akan sangat kontras ketika aku berada di tengah-tengah masyarakat kampungku, dan prinsip yang paling kupegang dalam menyelami lautan ilmu. “Tidak ada daya dan kekuatan selain dari dan milik Allah..”

Di sinilah aku mulai mengenal Muhammadiyah.....^,^


Bersambung....
------------------------------------------
Read more >>