Showing posts with label Cerita Bersambung. Show all posts
Showing posts with label Cerita Bersambung. Show all posts

[Rekam Jejak] Persamaan Matematika dan Energi Abadi (2)


Saat Ar dihijrahkan orang tuanya ke Jogja, Ar dibelikan sebuah rumah yang sangat mewah di daerah yang tidak terlalu jauh dari kompleks Kraton. Dengan tiga ruang utama dan enam kamar tidur serta lapangan basket yang berada di tengah-tengah, ukuran bangunan yang dibangun hampir 30 tahun dan belum pernah mengalami renovasi ini masih terbilang cukup bagus dan kokoh, meskipun pada beberapa sisi temboknya sudah mulai menjamur dan ditumbuhi rumput.

Sambil membersihkan monitor di kamar belakang, kuperhatikan kawanan tikus got sedang berlari-lari di halaman tengah. Sepertinya mereka sangat menikmati suasana halaman, beberapa kali tikus-tikus itu hanya memandangku lalu meneruskan permainannya. Itu artinnya tikus-tikus itu tidak takut padaku.  -“Nah,,looh..kok mereka tidak takut padaku..?? Apa aku ini dianggap kawannya..?? Ato mirip tikus…!! What…!!” :P- . Bukan karena mirip ato tidak mirip, tapi memang halaman tengah rumah ini sudah dipenuhi dengan rerumputan tinggi, bahkan ada pohon salak yang besar tumbuh tepat di depan jendela kamarku.

Setelah kecelakaan yang menimpanya, Ar mengalami gangguan saraf otak. Saat sedang OFF, ia akan berbicara tentang  apa saja yang ada di ingatannya tanpa berhenti. Ia juga akan marah-marah jika ingat kejadian buruk/tidak enak di masa lalunya, meskipun kejadian itu sudah terjadi puluhan tahun yang lalu. Bahkan, sering malam-malam ia terbangun dari tidur lalu teriak-teriak. Dalam bayanganku, scane-scane kejadian masa lalunya itu kembali hadir dan seakan-akan terjadi di ruang hidupnya saat ini. Ini yang mungkin –dalam istilah psikologi yang aku tahu- disebut dengan trauma psikis, yaitu kondisi psikologis seseorang yang luka karena peristiwa berat yang dialaminya.

Ar kehilangan sense kebersihannya, ia bahkan tidak risih untuk tidur di kamar yang sangat pengap dan kotor. Bahkan, barang-barang bekas yang sudah rusak dan sudah menjadi sampah, masih dipertahankan dan tidak boleh dibuang. Termasuk rumput-rumput yang menggunung di halaman tengah rumah ini, ia membiarkannya tumbuh untuk dijadikan taman bermain bagi bangsa-bangsa tikus, kadal, dll..

Namunpun begitu, Ar tetaplah Ar, di mataku ia tetaplah sosok yang jenius dan unik. Kejeniusannya tidak banyak orang tahu, bahkan oleh teman yang sudah tinggal bersamanyai lebih dari 3 tahun. Ar tidak akan terakses oleh orang yang tidak mengerti dan tidak mau mengerti tentang masa lalunya. Dan ia tidak akan menjadi sahabat bagi mereka yang tidak mau memahami ketinggian logika berfikirnya.

Untuk selanjutnya, coretanku tentang dirinya akan banyak mengangkat hal-hal yang di luar batas kemampuan nalarku..

Seperti kejadian malam tadi..
_______

Karena sudah 4 hari ini aku meninggalkan Jogja, malam tadi setelah meletakkan tas di kamar, aku langsung ke ruangan utama. Di sana sudah ada Ar yang sedang tiduran sambil memainkan HP nokia antiknya. Belum penuh aku mengambil posisi duduk, ia sudah membuka pembicaraan.

“Sebenarnya aku pingin membuat energi abadi, biar nanti orang-orang tidak perlu lagi men-charge baterai dan bingung mencari listrik…”, ujarnya.
Mendengar ungkapannya itu, dalam hati aku langsung teriak: “Wong edaan…!”
“Lha memang gimana caranya..?, tanyaku kemudian sambil memastikan kalau dia sedang ON.
“Sebenarnya gini lhoo…segala sesuatu itu bisa dibuat asalkan ditemukan rumus persamaan matematikanya. Jaman dulu mungkin orang akan bingung untuk bisa menerbangkan besi, tapi ketika rumus matematikanya bisa ditemukan, maka rekayasa menerbangkan besi bisa dibuat. Itu Pak Habibi bisa membuat pesawat karena ia menemukan dulu rumus matematika dari titik lelah suatu benda..”, terangnya dengan suara keras.
Yakin dia sedang dalam keadaan ON, aku pasang dua telingaku lebar-lebar untuk mendengarkan penjelasannya…
“Di dunia ini sebenarnya Tuhan sudah menyediakan energi abadi, hanya saja energi abadi itu masih terpecah-pecah. Nah, untuk menggabungkannya, kita harus menggunakan dua rumus sekaligus, yaitu persamaan fisika dan perubahan kimia. Beda lhoo yaa, persamaan fisika dan perubahan kimia itu beda…kalau..”

Bersambung..

-Harus ke Kaliurang mendampingi teman-teman IPM Muha-

*Untuk.menghibur.yang.tadi.malam.galau..hehe..

Read more >>

Kapal Kertas

Ia duduk di sana, di atas batu putih. Sendirian, ia melempar pandangannya ke selatan, jauh pada objek yang tak terbatas, mengurai luasnya langit.

Dan lihatlah, kali ini matanya mulai bergerak, mengikuti daun yang diterbangkan angin. Daun itu melangit, lalu berputar-putar sebelum akhirnya menjauh ke arah jurang. Di arah itu, matanya tertahan, pandangannya kembali kosong.

Batu putih tempat ia duduk adalah ujung bukit yang sebelah timurnya merupakn jurang dengan kedalamandan ratusan meter. Curamnya ditumbuhi ilalang dan rumput-rumput akar yang lebat. Sekitar 300 meter dari dasar jurang, tumbuh pohon ringin yang sangat besar dengan akar-akarnya yang merayap di pelipir-pelipir bebatuan. Sesekali terdengar suara tetesan air dari dasar jurang, dan sahut-sahutan suara kodok, sebuah isyarat belantara tentang kesunyian dan angkernya.

Si rambut pirang itu berdiri, menegakkan tubuhnya di bibir jurang. Ia memandang dalam dasarnya, menyusuri setiap garis-garis batu. Tak lebih dari 300 meter di bawah, batas matanya tak mampu lagi menembus gelap. Pantulan sinar matahari sore hanya samp...


To be continued..

Read more >>

Titah Tuhan dan Bahasa Takdir (20)

Adolf Hitler dan Sayap Ayam

 
Hidup selama sebulan di asrama benar-benar membuatku frustasi, bukan hanya peraturannya yang super ketat, jam pelajaran yang sangat padat, namun juga menu makan yang sangat tidak ber-prikemanusiaan; bertentangan dengan imanku, juga menginjak-injak harga diri leluhurku..!

Kawan, tentu kalian pernah mendengar slogan Adolf Hitler dalam mempropagandakan misinya: “Sebarkan kebohongan dan ulang-ulanglah kebohongan itu, lama-lama ia akan menjadi kebenaran...!!”

Menurut tebakanku, mungkin dulu ada anak buah Hitler yang kapalnya terbawa angin dan terpontang panting di Laut Hindia, akhirnya kapal itu terdampar di Pantai Selatan Jawa, tak lama setelah terdampar, mereka ditolong oleh orang kampungku.

Sejak saat itulah kemudian slogan tadi menyebar di kampungku sebagai sebuah teori, dan lama-kelamaan semakin banyak orang kampungku yang bereksperimen dengan teori tersebut, maka semakin banyak pula kebohongan-kebohongan yang tersebar. Celakanya, sebelum kebohongan tersebut diklarifikasi, si eksperimentornya sudah keburu mati.

Berikut ini akan kusampaikan padamu kisahku tentang teori Hitler tersebut, yang karenanya aku sempat dibuat sengsara oleh seekor ayam, dan baru sembuh setelah beberapa tahun lamanya.

Kawan, tahukah kamu bahwa aku pernah trauma jika melihat ayam goreng,,??..

Dulu waktu aku kecil, suatu malam aku pernah makan bersama Kakek dan Nenek di rumahnya. Menu malam itu sangat istimewa, “ayam panggang”. Sudah menjadi kebiasaanku untuk meng-edit dan mencungkil-cungkil lauk sebelum siap dihidangkan ke meja makan, dan bisa dipastikan, nasib buruk selalu menimpa lauk yang paling enak, sehingga sebagai akibatnya, lauk-lauk tadi sudah terkelupas saat dihidangkan...^^.

Ketika sedang enak-enaknya makan, dari dapur terdengar teriakan Nenek:
“Hadoooh Gustiiiiii,,,,suwiwiiiii...suwiwiiiiiii....suwiwiiiiine ilaaaanggg..!!!”

“Suwiwi...”, tiruku lirih sambil memperhatikan daging ayam yang sedang kumakan.

Namun tiba-tiba jantungku hampir copot ketika Kakek juga ikut teriak sambil mengarahkan jarinya ke aku: “Hadoooooohhh.....iki suwiwineeeee....!!!”.

Karena kaget bercampur takut, daging suwiwi (sayap) ayam yang kupegang itu kulempar. “Jin kampret apakah yang berada di suwiwi itu...???”, batinku bertanya-tanya.

Tak lama kemudian, Nenek datang dengan membawa beberapa bunga yang dicampur dengan sedikit gula jawa dan terasi.

“Ayoo cepat dimakan, biar tidak kualat..!!”, ujar Nenek sambil menjejelkan bunga-bunga itu ke mulutku... Kawan, inilah kali pertama aku menjadi korban neo-satanisme, khurafat tingkat tinggi yang menjangkit sebagian besar masyarakat kampungku. (@,@)

Sejak malam itu, setiap kali kami makan ayam, Nenek selalu mengingatkanku agar tidak makan sedikitpun daging suwiwi, “Kalau makan daging sayap, kamu nanti kalau sudah besar akan susah cari kerja..”, terang Nenek dengan mimik muka serius.

Dan di sinilah teori Hitler tadi teruji empirisnya, cukup dengan melibatkan tiga komponen utama: aku, sang ayam, dan Nenek...^,^, teori tersebut terbukti eksis menjadi ‘imanku’ yang menutup rasionalku. Maka sejak saat itu, aku mempunyai iman baru, yaitu: “Menjauhlah dari SUWIWI agar hidupmu bahagia sentosa sepanjang masa...!! *ckckck..

---------------------

Seperti halnya sifat ilmu pengetahuan yang terus berkembang, maka teori-teorinyapun juga pasti banyak yang mengalami perkembangan, bahkan perubahan.

Setelah berjalan sekian tahun aku memegang kuat imanku itu, hari ini di depan pintu dapur ”sekolah dukun” ini aku memertanyakannya; perihal suwiwi. “Suwiwii..suwiwii.,, Di mana titik logisnya kamu bisa mengatur hidupku...?? Di mana titik nalarnya, kamu yang tergeletak tergoreng ini bisa menghalang-halangi aku untuk mendapatkan pekerjaan...??”.

Sambil kuperhatikan bentuknya yang tertelungkup dengan aroma gorengnya yang lezat, aku mentertawai diriku sendiri, “Oow,,betapa bodohnya aku selama ini...!”.

Lauk ini tidak akan pernah bisa menggaris nasibku, ia tak mempunyai kuasa sedikitpun untuk menentukan masa depan pekerjaanku..

Di saat yang sama pula, aku mengangkat topi tinggi-tinggi sebagai bentuk apresiasiku terhadap Adolf Hitler, kukatakan: “Aku yakin, teorimu tak akan lapuk dimakan waktu, Dof..” (-,-).v

Menjauh meninggalkan pintu dapur, kulambai-lambaikan kotak nasiku yang berisi SUWIWI goreng lengkap dengan sambalnya. Dan setiap kali aku mengambil makan di dapur, di pintu kamar selalu kubaca terlebih dahulu: “Menu hari ini: SAYAP + OSENG BUNCIS..!!! Dan selama 4 tahun kemudian, suwiwi menjadi lauk favoritku..^^

Inilah, satu mutiara yang pertama kali aku dapatkan dari “sekolah dukun” ini. Hal yang sangat fundamental, yang akan menjadi titik kompromi antara logika dan keimananku, warna yang akan sangat kontras ketika aku berada di tengah-tengah masyarakat kampungku, dan prinsip yang paling kupegang dalam menyelami lautan ilmu. “Tidak ada daya dan kekuatan selain dari dan milik Allah..”

Di sinilah aku mulai mengenal Muhammadiyah.....^,^


Bersambung....
------------------------------------------
Read more >>

Titah Tuhan dan Bahasa Takdir (5-6)

5). "Majalah 'Bobo' dan Teori Evolusi Darwin"
6). "Lirikanmu seperti kilatan petir.."
--------------------------------------------
 
Majalah ‘Bobo’ dan Teori Evolusi Darwin

Pernah suatu ketika, sewaktu kelas satu SMP caturwulan tiga, pada pelajaran IPA Biologi, guruku menerangkan tentang asal-usul kejadian manusia dari beberapa teori-teori yang terdapat di buku pedoman pengajaran IPA. Beliau mengatakan bahwa manusia berasal dari MONYET dengan teori EVOLUSI Darwin sebagai rujukannya.

Tanpa basa-basi, ketika beliau membuka kesempatan siswa untuk bertanya, majalah BOBO yang sudah aku persiapkan untuk membantah sekonyong-konyong kutunjukkan. Kami berdebat panas, dasar ‘Bobo’ yang nakal-nakal brengsek, akhirnya guru biologi itu menutup perdebatan dengan suara pelan seraya mengatakan: "Sudah thoo lee, lhaa saya kan hanya menyampaikan apa yang ada di dalam buku, kalau protes sama yang membuat buku, bukan sama saya...!!!"

“Bapak bisa masuk neraka karena ngomong begitu....”, bantahku tidak terima.

****

“Lirikanmu seperti kilatan petir...”

Sewaktu aku masih SD, hanya ada dua film yang paling kusukai, yang pertama film India di TPI setiap hari Rabu dan Jum’at jam 10.00, dan “Si Doel Anak Sekolahan”, malam pukul 20.00 di RCTI. Kata orang-orang tua di kampungku, anak SD tidak baik menonton film-film itu..!

“Ah dasar orang-orang tua, sukanya memang memonopoli acara TV..huh..”

Dari film India, aku jadi tahu jika ada seorang lelaki dan perempuan yang saling bernyanyi berdendang bersahut-sahutan, terus berlari kejar-kejaran lalu berputar-putar mengitari pohon, itu berarti mereka sedang JATUH CINTA..!!^,^

Dan dari “Si Doel Anak Sekolahan”, kalo ada seorang wanita yang sering berkunjung ke rumah pria, atau sebaliknya, dan mereka sering membawa bunga ketika berkunjung, maka orang dewasa menyebutnya “NGAPEL...!!” (@,@)

Dua istilah di atas cukuplah menjadi modal bagiku untuk menutupi muka kampungku, paling tidak jika berbicara tentang cinta dan wanita, aku bisa lebih fasih dari orang-orang kota ini..^^

Dan hari itupun datang, aku bukan lagi sekedar berteori tentang orang India yang sukanya bernyanyi memutari pohon kelapa, tapi aku benar-benar mendapati jiwaku bergejolak, dadaku mulai bergetar-getar ketika bertemu dengan “si-dia”. “Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta...???.”

Sebenarnya aku ingin membantah kalau aku sedang jatuh cinta. Karena yang kualami berbeda dengan teorinya; teorinya adalah jika seseorang jatuh cinta, maka harusnya ia bernyanyi-nyanyi sambil berlari mengitari pohon kelapa..!!(@,@)

Fatimah, duduk hanya dua bangku di depanku, tak lebih dari tiga hasta, sebenarnya tanganku bisa meraih tali rambutnya yang berwarna ‘jingga’. Atau bisa saja sekalian kutarik rambutnya dan kuajak berlari-lari dengan diiringi lagu paling populer kala itu, “Sephia by SheilaOn7”.

Setiap kali aku melihatnya, rasanya dadaku seperti disengat listrik ribuan volt, hanya karena nasibku baik, sehingga aku tidak tewas meskipun tersengat berkali-kali. Kawan, kau tentu sudah kuberitahu sebelumnya bahwa Tuhan sangatlah baik padaku...^^

Fatimah berada pada jejeran murid-murid ‘HOT’. Siswi yang mendapatkan label ‘HOT’ bukanlah sembarangan, karena dibutuhkan dua syarat mutlak; aduhai kecantikannya dan luar biasa akademisnya. Oleh karena itu, tentu cowok manapun yang mendekatinya, haruslah berfikir ribuan kali untuk berani mengutarakan cintanya, termasuk aku.

Meskipun aku cenderung nekat dalam banyak hal, tapi aku adalah cowok yang tahu diri. Karena kutahu jika kuungkakan perasaanku ke Fatimah, dia pasti akan menolakku, atau bahkan celakanya, dia tidak mentolelir perasaanku. Maka sebagai seorang lelaki sejati, kuambil sikap ideal dan moderat: “Secara diam-diam aku telah menganggap diriku adalah pacarnya...^,^”

****

Hari demi hari hatiku terasa sesak, pikiranku kacau tak terkontrol. Benda apapun yang kutemui, selalu terlukis wajah sang pujaan hatiku. Sampai suatu ketika, aku ikut Emak ke pasar, dan secara tak sengaja saat melintasi penjual buku, kutemukan buku kuning bergambar buah apel merah tertembus panah, judul bukunya sangat panjang: “Kumpulan Surat Cinta dan Tips-tips Mendapatkan Perhatian Pacar”, sedangkan buku yang lebih kecil lagi berjudul: “Kiat-kiat Menjadi Pria Romantis”, dan buku ke tiga yang sampulnya bergambar tokoh wayang ‘Arjuna’, judulnya: “Aji Pengasihan, Mantra-mantra Warisan Leluhur untuk Cinta, Kekebalan dan Usaha”..

Kawan, bisakah kalian menebak buku mana yang kupilih...????

Sssszzzzttt.....akan kuberitahukan padamu, tapi ini rahasia kita saja. Iya benar, aku memilih buku yang bergambar ‘Arjuna’..!!^_^

Jika kalian ingin pinjam buku itu padaku, silahkan datang ke rumahku, dan tanya Emak-ku, karena sehari setelah kubeli, buku itu sudah lenyap dari meja belajarku. Aku yakin, buku itu diambil Emak...

Bersambung...
Read more >>

Titah Tuhan dan Bahasa Takdir (1-4)

Titah Tuhan dan Bahasa Takdir



Kadipaten Kidul, Oktober 2009

Sore yang dingin, hembusan angin pantai selatan menerbangkan kupu-kupu kuning jauh sampai di pelataran Merapi. Avertebrata nan cantik ini sempoyongan melawan kuasa angin pantai selatan. Dia tak sendirian, beribu-ribu lalat hijau terseok-seok tak berdaya, bahkan beberapa kelompok dari kawanannya sudah terjerembab matang di kawah Merapi. Angin selatan tak peduli, karena dia berhembus membawa titah Tuhannya, kabar bahwa Langit sudah cukup gerah karena kepercayaan dan adat Mataram yang durhaka, karena berani menyematkan angin selatan sebagai hembusan dan bisikan peri-peri gaib jagad gelap Laut Hindia.

Di teras kontrakan, aku duduk memperhatikan tumpukan buku-buku sejarah. Lebih dari empat jam aku mengembara menembus lorong waktu, memasuki sebuah dimensi yang beralur-alur rapi. Cukup sekejap, aku bisa melompat-lompat melewati ratusan bahkan ribuan tahun titik kejadian. Setiap alurnya melukiskan gambaran yang sempurna akan wujud manusia dari setiap peradaban. Itulah sejarah dan kitab-kitab sejarah, sebuah lorong waktu yang jarang orang memasukinya.

Lelah memeras setiap kata yang termaktub di setiap lembarnya, aku menyadarkan diriku bahwa hari telah merangkak senja. Sejenak saja kualihkan pandanganku untuk menghitung tetesan air yang menetes dari langit, dan aku baru sadar bahwa angin selatan menusuk-nusuk tulangku, isyarat bahwa air dan angin akan melakukan ritual alam; Jogja hujan dengan petir yang menguntur.


***...

Sayup-sayup suara adzan Mahrib meliuk-liuk, berdesak-desakan dengan angin dan tetesan air langit. Suaranya menyelusup ke setiap lubang-lubang mili meter cendela dan atap-atap. Namun seperti halnya angin dan tetesan air langit, suara halus sang muadzin dari masjid Mataram juga membawa titah Tuhan, sebuah memorandum dari Yang Mahakuat dan Perkasa untuk makhluknya

Pulang dari masjid Mataram, aku duduk di depan monitor, mengarahkan crusor membuka-buka folder lama. Kumpulan coretan yang pernah kutulis sekitar dua tahun yang lalu, kubaca dan aku temukan kembali inilah aku.

Kuceritakan ini dan Jogja-pun lembab, menangkap sinyal-sinyal impianku....


****..


Aku dilahirkan di desa yang jauh dari kota. Besar seperti layaknya anak desa yg lain; main ke ladang, petak umpet di pinggiran kali, setelah lelah terus nyebur ke sungai-sungai yang warnanya cokelat karena lendut. Pulang main di sungai, terus pasang jebakan burung di ketinggian pohon jati.

Pulang ketika senja sudah jauh. Sampai di rumah dimarahi Bapak, namun selalu saja Emak melindungiku, “Cepat ganti baju terus berangkat ke masjid, sebelum Bapakmu ngamuk...!!.


Berangkat ke masjid dengan membawa batrei kecil, dan di leher selalu tergantung ketapel. Di manapun dan kapanpun berada, kedua benda itu selalu menemani.



Masa-masa SD-ku



Sekolahku dipilihkan oleh Emak di tempat yang lumayan jauh dari rumahku, memerlukan waktu sekitar 40 menit untuk berjalan kaki. Saat itu aku sungguh mengerti kenapa Emak memasukkanku ke sekolah yang jaraknya lebih jauh, padahal ada sekolahan yang dekat rumah, +- 10 menit berjalan kaki. Secara otomatis, akupun terpisahkan dari kawan-kawan sebaya kampungku. Dan setelah +- 18 tahun kemudian, aku baru mengerti alasan Emak..^^



Selama enam tahun di SD, terhitung ada sekitar tiga teman yang tidak mau melanjutkan sekolah karena takut dengan kelakuanku yang kelewat sadis (katanya siiy..^^). Pernah suatu ketika para guru harus berurusan dengan orang-orang kampung, karena salah satu anak kampungnya ada yang kepalanya hampir bocor terkena lemparan batu seberat +- 1 kilo dari ketinggian lima meter. “Aku kan ndak sengaja, pingin melempar kaki, eee malah kena kepala...^,^”



Pernah juga, teman sekelas yang paling cantik harus cuti satu tahun karena orang tuanya tidak ridha jika anaknya berkawan denganku. Sebagai generasi paling beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai persahabatan, sepulang sekolah aku dan kawan-kawan selalu melakukan rutinitas di persimpangan jalan ke kampung masing-masing. Rutinitas itu adalah aksi saling lempar batu aspal rusak. (tuing..tuing...). Singkat cerita, 'Heni' gadis cantik dari desa sebelah terkena lemparanku tepat di atas pelipis matanya. Dan sejak saat itu, ia dilarang sekolah oleh orang tuanya, dan baru melanjutkan sekolah setahun kemudian. Rutinitas yang akhirnya menjadi ritual ini berlangsung sampai kami selesai SD^^..



Suatu hari, ketika aku kelas 4, guruku mengatakan kalau aku akan segera di’droup out’ dari sekolah ini.

“Lha kenapa Bu Guru kok saya mau dikeluarkan...???”, tanyaku pada salah satu guru di area parkir sekolahan. “Ben kapok, bocah ngengkel aee kok....!!!”, jawab Ibu guru itu dengan melototkan matanya.


Mendengar jawaban yang sangat tidak bersahabat itu, aku langsung berlari sambil teriak: “Ibu Guru assssssss*************......!!!!!”


Dan dua hari setelah percakapan kami di area parkir kemarin, tersiar kabar kalau “Honda Astrea Grand” milik Ibu Guru itu terkena musibah: spion hilang, jok sobek bergaris-garis, busi dan kabelnya lenyap, serta rodanya tak ber-pentil..^,^


******
 

Menjadi Siswa SMP


Jarak tempuh dari rumah ke sekolah sekitar dua jam (45 menit naik angkutan dan sisanya perjalanan dari rumahku ke terminal). Tiga tahun secara rutin bangun pagi pukul 05.00 subuh, ganti baju dan sarapan, lantas berangkat pukul 5.30, berjalan kaki sejauh 1 jam 10 menit...!!!


Sama seperti dulu ketika aku dipilihkan ke sekolah yang sangat jauh, padahal ada SMP yang jarak tempuhnya kurang dari 40 menit perjalanan kaki. Pertanyaanku masih sama tentang apa alasan Emak, yang kemudian kutahu ternyata alasannya berbeda ketika Emak memilihkanku SD yang jauh dan SMP yang jauh pula., nanti saja di belakang kuterangkan padamu. ^^


Selama tiga tahun di SMP, jam bermainku terkuras habis, karena hampir dipastikan, pulang dari sekolah aku langusung terkapar tidak berdaya. Biasanya sampai rumah pukul 17.00 ketika anak-anak TPA berhamburan pulang mengaji. Aku terengos-engos menahan capek berjalan satu jam lebih. Kontruksi tanah ketika pulang cenderung menanjak, jadi lebih menderita sekali dibanding berangkat..(@,@)


Sebulan menjadi siswa di sekolah rada kota, lumayan membuatku terkagum-kagum. Banyak mobil berlalu lalang dan banyak banget mainan bagus-bagus dijual di emperan sekolah. Mungkin ini sisa-sisa syndrome masa kecil yang hanya tahu main kereta tanah dan ketapel, kini ada mainan yang bisa berjalan sendiri, bahkan berbicara,,(@,@) ouuhhhh menyakitkan sekali melihatnya...!!


Dua bulan berjalan, suatu hari di saat jam istirahat aku diajak teman jalan-jalan ke pasar. Dia bilang ingin ke pabrik uang receh.


“Emang ada pabrik uang receh....??”, tanyaku sangsi. “Udah ayoo ikut saja, jangan banyak tanya...!!”, ajaknya sambil mulai mengayuh sepeda ontelnya.


Kami masuk ke tengah pasar, dan berhenti di depan kios kecil. Kulihat di dalam kios terdapat beberapa televisi dengan bentuk seperti robot. Masih menahan penasaran, aku menjaga mulutku untuk tetap diam. Temanku mulai duduk di depan televisi robot itu, dan perlahan-lahan mulai terlihat tegang. Aku hanya terdiam melihat bola warna-warni bergerak-gerak dan loncat-loncat di monitor. Dan tak lama setelah itu, terdengar suara “krucuuuukkkkk...krucuuukkkkk.....”

“Haaaaaaahhhhhh,,,,”, mataku terbelak melihat ada banyak sekali koin 100 rupiah keluar dari hidung robot itu. “Waaahhhh,, dahsyaat,, ingus robotnya duittttt....???!!!!???#@%@#!#”



******


“Sok tahu”, mungkin itu adalah salah satu sifat genetik yang aku warisi dari leluhurku (jika memang tebakanku ini benar, berarti bisa dipastikan aku adalah keturunan ahli nujum dari Dinasti Syailendra yang ‘kecerdasannya’ bisa menghitung jumlah batu yang dibutuhkan untuk membangun candi Borobudur.^^). Setelah tadi diajak temanku untuk mencari uang receh, sepulang sekolah aku tak langsung kembali ke rumah, kakiku membimbingku untuk ke kios tengah pasar.


Dengan lugu, tanpa ilmu dan tanpa pengalaman, aku memencet-mencet seperti apa yang dilakukan temanku. Namun 30 menit memencet dan memukul-mukul, keanehan terjadi,, layar mati....!!!!!!


Si penjaga heran kok bisa mati. Dalam gerutunya dalam bahasa Jawa kasar, ia mengatakan: “Jangkrik,,ding dong'’e rusak layare...!!”


OOooo..’Ding Donk’.. Sekarang aku baru tahu kalau mesin pencari uang receh ini namanya ‘DinK doNk’,, Mesin DiNk DoNk....!!! Subhanallah..(@,@)


Nama itu langsung menjadi pembicaraan hangat di desaku. Dari teman-teman sebayaku sampai anak-anak kecil SD, mereka semua membicarakan DiNk DoNk, si mesin pencari uang.


Singkat cerita, karena sering melihat orang memainkan DiNk DoNk, aku menjadi pemain yang benar-benar tangguh. Hampir bisa dipastikan, dengan modal 200 rupiah, dalam satu jam aku bisa mendapatkan 8000 - 10.000 ribu. Bahkan tidak jarang orang-orang mau menyewaku untuk memainkan mesin ajaib itu. Aku menjadi terkenal di Pasar Gede kecamatan sebagai Ksatria Dink doNk (Knight of Dink DonK!!!).


Hampir selama setahun, aku menghabiskan waktu istirahatku di sanggar DiNk doNk. Sampai akirnya tempat itu ditutup karena dianggap sebagai tempat perjudian yang paling banyak melibatkan siswa-siswa sekolah. Karena tindakan sepihak aparat kepolisian, akhirnya hilanglah mata pencaharianku dan terputuslah penghasilanku. Perlu diketahui, dari hasil bermain DiNk dOnK, hampir setiap minggu aku memborong bertumpuk-tumpuk majalah 'Kuncung, Legenda, Bobo, dan beberapa majalah lain'.. (@,@)



Titik Klimak..


Memasuki tahun 2000, koleksi majalah dan buku bacaanku di almari sudah terlalu menumpuk. Lebih dari 200-an majalah yang semuanya kudapatkan dari hasil mencari nafkah memeras keringat. Akirnya Emak berinisiatif untuk menjual majalah-majalah itu, “dikilokan saja yaaa...”, kata Emak. Akhirnya dengan beberapa perjanjian, aku merelakan hasil jerih payahku itu dijual. Lumayan, semua hasil jerih payah memeras keringatku itu menghasilhan lebih dari 400 ribu.. Heeem,,awal pertama aku merasakan memegang uang dalam jumlah besar, 400 ribu.^,^


Naik ke kelas dua SMP, aku memiliki sepeda ontel baru dengan merek VEROZA warna hitam anggur merah. Sepeda yang siang dan malam selalu tidak jauh dari tempat belajar dan tempat tidur. Aku jatuh cinta dengan sepeda hasil keringatku di DiNk doNk.


Pemirsa yang budiman, demikianlah HIKMAH BERJUDI DINK DONK..hihihihi..^,^



Bersambung...

----------------------


Lanjutan:

"Majalah 'Bobo' dan Teori Evolusi Darwin"
Read more >>

...tanpa titik...

SMS itu memecah mimpiku,. Ooh,, sebuah pertanyaan "Sang,.kapan sih kamu mau menjadi manusia serius, sedikit saja juga tak apa!?"...HadoOoh... ini yang ngirim tepat banget momennya, tahu banget kalau aku lagi overdosis parasetamol, apakah dia ingin membunuhku??..Heem.,mungkin karena dia sayang padaku!!. Dengan mata melek sebelah, kubalas SMS itu "Ini siapa?kamu melihat ketidak seriusanku dalam hal apa?"..sent..

Mata dan hidungku terus meneteskan air, mulut gatal dan badan gemetaran. 'New message received', "Knp kmu trlalu mremehkn kaumq, kami diciptakn bkn utk mainan!". Nyut nyut nyut, otakku berkontraksi seperti akan menembus batok kepala yang hanya 1,3 cm. Mataku terpejam rapat menahan bola mata yang loncat-loncat. SMS ini dihasilkan menggunakn metodologi riset ahli ushul fiqih generasi awal; dipilihnya kesimpulan kemudian dicari dalil-dalil pembenaran.

Pukul 02.15 WIB, gadis ini masih terjaga deng susunan SMS singkatnya. Apa mungkin dia mendapatkan ilham dalam tahajudnya untuk menasehatiku???. Aah,, tdk mungkin, karna Tuhan tahu niatku, aku bukan seperti apa yang ada dalam SMS itu. Sepertinya aku dikerjain manusia-manusia mantan napi. Karena teralu lama dipenjara, saraf sensorik otak mereka sering mengeluarkn gelombang-gelombang sinting kejahatan.

Dengan penuh keyakinan, tanpa tekanan dan dalam kesadaran, jempolku memencet keypad menuliskan "Kamu tembeLek,,hahaha!!". Pukul 03.00 WIB, hembusan angin selatan menyusup celah-celah genteng rumahku, mengusik puluhan tikus yang sedang bertasbih kepada Sang Penguasa alam raya, mengercit dan berlari mencari perlindungan. Nyanyian alam kembali menidurkanku.(Bersambung)

"Sang,,bangun kie Emak goreng tape!!", suara itu halus menyentuh gendang telingaku, sarafku yang masih normal meneruskan rangsangan itu ke otak, lalu mulutku berbisik lirih "tapeee".

Pukul 05.30 WIB, inilah jam abadi aku mengakhiri mimpi, Dan sebagai hamba Tuhan yang tahu tekhnologi, aku selalu mendahulukan membaca dan memblas SMS sebelum bermunajat shalat subuh. "Two messages received".."Km emng kras kpala, smbong, egois, tdk mau mndngarkan nashat orng"..Nyut nyut nyut,, bola mataku seperti terlepas dari tengkorak ketika membcanya. Aku sungguh dalam delima, antara "makan tape, balas SMS, atau shalat subuh". Kawan, dan tahukah kamu pilihan anak kampung yang kenal tekhnologi HP ini??.,adalah membawa HP ke dapur, duduk manis makan tape sambil balas SMS....

"Maaf..tak kira aku td dKrjain, aku gSprti yg kmu tliskan".

Pagi yang dingin, titik-titik embun di pepohonan perdu ramai dikunjungi belalang-belalang Cemeni, belalang dusun yang tak pernah melakukan urbanisasi ini berebut membasahi tubuh mereka. Mereka tahu dan faham betul bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, sedangkan aku??..

......
07 Okt 2009
Read more >>